Catatan Kajian Ilmiah

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar’i), maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Muslim)

Archive for the month “February, 2013”

Agama adalah Nasehat

Al Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said Ibnu Hazm rahimahullah berkata:”Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasihat, baik yang diberi nasihat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung.
Apabila engkau memberi nasihat, maka nasihatilah secara rahasia, jangan di hadapan orang lain,dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung,kecuali apabila orang yang dinasihati tidak memahami isyaratmu, maka harus secara terus terang. Jika engkau melampaui adab-adab tadi, maka engkau orang yang zalim, bukan pemberi nasihat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan, bukan pemberi amanat
dan pelaksana hak ukhuwah. Ini bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan, melainkan hukum rimba, seperti seorang penguasa dengan rakyatnya, dan tuan dengan hamba sahayanya.”

Fatwa Pra-Pernikahan

Setelah pinangan diterima tentunya ada kelanjutan pembicaraan, kapan akad
nikah akan dilangsungkan.
Namun tidak berarti setelah peminangan tersebut, si lelaki bebas berduaan dan berhubungan dengan si wanita.
Karena selama belum akad keduanya tetap ajnabi, sehingga janganlah seorang muslim bermudah-mudahan dalam hal ini. (Fiqhun Nisa fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)

Jangankan duduk bicara berduaan, bahkan ditemani mahram si wanita pun masih
dapat mendatangkan fitnah.
Karenanya, ketika Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dimintai fatwa tentang seorang lelaki yang telah meminang seorang wanita, kemudian di hari-hari setelah peminangan, ia biasa bertandang ke rumah si wanita, duduk sebentar
bersamanya dengan didampingi mahram si wanita dalam keadaan si wanita memakai hijab yang syar’i.
Berbincanglah si lelaki dengan si wanita. Namun pembicaraan mereka tidak keluar dari pembahasan agama ataupun bacaan Al-Qur`an. Lalu apa jawaban Syaikh rahimahullahu? Beliau ternyata berfatwa,
“Hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan.
Karena, perasaan pria bahwa wanita yang duduk
bersamanya telah dipinangnya secara umum akan membangkitkan syahwat.
Sementara bangkitnya syahwat kepada selain istri dan budak perempuan yang dimiliki adalah haram. Sesuatu yang mengantarkan kepada
keharaman, hukumnya haram pula.” (Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, 2/748)

Landasan Persaudaraan dan Solidaritas “Akidah Muslim”

Persaudaraan yang tidak dibangun di atas Islam akan membentuk ikatan semu, dan melahirkan interaksi hampa. Karena mengakomodir berbagai macam manhaj dan akidah suatu hal yang mustahil. Allah menegaskan:

(إنما المؤمنون إخوة)
“Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara,” (Al Hujurat:10)

Siapapun yang tinggal di timur maupun barat dan beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada hari akhir maka dia menjadi saudara bagi Mukmin yang lain. Persaudaraan yang mewajibkan untuk mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai untuk diri mereka sendiri dan membenci untuk mereka sebagaimana membenci untuk diri mereka sendiri.

وألف بين قلو بهم، لو أنفقت مافي الأرض جميعا مآ ألفت بين قلوبهم ولكن الله ألف بينهم،  إنه، عزيز حكيم.

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Anfal : 63)

Akidah Islam mampu menjadi perekat prinsip, langkah, visi dan misi paling kuat, sehingga persaudaraan dan solidaritas yang tidak dibangun di atas akidah Islam bagaikan sarang laba-laba, sangat rapuh dan mudah rontok. Sementara akidah Islam memandang semua umat manusia wajib menyembah Allah dan seluruh manusia merupakan hamba Allah dan yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling bertakwa. Sebagaimana firman Allah di Al Hujurat 13

Persaudaraan yang dilandasi ketakwaan akan membuahkan ikatan yang mulia dan melahirkan solidaritas yang tinggi sehingga mampu meruntuhkan sukuisme dan dinding pembatas nasionalisme jahiliyah yang telah dihapus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabdanya:
لا فضل لعربي عل عجمي ولا لعجم علي عربي ولا لأسودعلي أبيض ولا لأبيض علي أسودإلا بالتقوى كلكم لآدم من تراب.

Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non Arab, tidak ada pula non Arab atas orang Arab, tidak pula yang berkulit hitam atas orang yang berkulit putih, tidak pula yang berkulit putih atas orang yang berkulit hitam kecuali dengan takwa. Kamu sekalian dari Adam dan Adam berasal dari tanah.
(Shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya (5/411)

Persaudaraan dan solidaritas hanya bisa ditegakkan di atas akidah dan manhaj yang shahih, karena persaudaraan dan solidaritas tanpa adanya landasan jelas yang mampu menyatukan berbagai kepentingan merupakan usaha mustahil. Maka memperjelas landasan persaudaraan itu lebih penting daripada persaudaraan itu sendiri kecuali bila yang dikehendaki hanya bersatunya jasad tanpa nilai ketakwaan, keimanan dan moralitas agama. Para Rasul, khususnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk menegakkan agama dan jangan berpecah belah dalam menerima kebenaran, sebagaimana firman Allah dalam QS Asy-Syura : 13
Read more…

Post Navigation

%d bloggers like this: