Catatan Kajian Ilmiah

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar’i), maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Muslim)

Archive for the month “May, 2013”

JADILAH SEPERTI LENTERA!

Artikel Islam Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah Free Download Gratis Ebook MP3 Video Turorial Ceramah Kajian Islam | SALAFIYUNPAD.wordpress.com

Oleh Ustadz Armen Halim Naro, Lc.

Orang yang merasakan manisnya hidayahnya dan lezatnya iman ialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak akan puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahgiaan.

View original post 1,085 more words

Advertisements

Dosa Dibalik Jilbab Gaul

Alhamdulillah, kesadaran memakai jilbab telah mulai tumbuh di kebanyakan wanita muslimah di tanah air kita. Memakai jilbab sudah bukan merupakan barang aneh atau terlarang di tempat kerja. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan terbukanya era globalisasi, banyak sekali dari wanita muslim yang ingin berpakaian syar’i, mereka ingin memakai jilbab, tapi mereka juga ingin tampil modis dan cantik. Mereka memakai jilbab karena mengikuti trend atau agar terlihat “Islami”, terlihat lebih anggun dan cantik, atau hanya ikut-ikutan saja. Maka mereka pun lebih mementingkan faktor keindahannya, keanggunan dan gaya, TANPA MEMPEDULIKAN SUDAH BENAR ATAU BELUM JILBAB YANG DIGUNAKANNYA.

Tak pelak, kita dapatkan seorang wanita muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis dan transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Contohnya, kepala dibalut kerudung/jilbab, tapi berbaju atau berkaos ketat, bercelana jeans atau legging yang mencetak lekuk tubuhnya.

Fenomena inilah yang mulai menjamur dan membingungkan kebanyakan orang awam, sebagian mereka berkomentar “MASIH MENDING PAKAI JILBAB GAUL DARIPADA GAK PAKE SAMA SEKALI!!” Yang lain berkomentar, “LHO, INI KAN MASIH DALAM TAHAP BELAJAR?!”, “YANG UDAH PAKE JILBAB DIKOMENTARIN TERUS, TAPI GIMANA SAMA WANITA YANG PAKE BIKINI? KOK GAK DIKOMENTARIN?” Dan komentar lainnya yang terkesan benar, tapi sejatinya sangat-sangat jauh dari kebenaran. Karena seorang muslim dituntut untuk menjalankan agama secara kaffah (total dan sempurna).

BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG HAL FENOMENA INI?

ADAKAH DOSA DIBALIK JILBAB GAUL?

Jikalau kita cermati, jilbab yang dipakai oleh wanita muslimah itu bermacam-macam. Bisa kita bagi secara umum menjadi 3 macam jilbab, yaitu:

– Jilbab besar,

– Jilbab biasa,

– Jilbab gaul atau jilbab “funky bin jilbab nyekek leher” saja

Simak penjelasannya satu-persatu

Jilbab besar adalah jilbab syar’i, yaitu jilbab yang menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak berparfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah. Pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal (yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia & perhiasannya) maupun pakaian yang bernilai rendah (yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya’). (Imam Asy Syaukani dalam Nailul Athar II/94)

Adapun jilbab biasa adalah sama dengan di atas, namun dengan ukuran yang sedang, tidak sebesar jilbab di atas. Hukum jilbab seperti ini adalah tidak mengapa, asal sifat-sifat yang ada pada jenis pertama (menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak berparfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah) masih bisa dipertahankan.

– Sedangkan jilbab gaul adalah jilbab yang lagi booming sekarang ini. Contoh-contohnya:

Ada yang memakai kerudung dengan bawahan rok yang hanya sebetis/ malah kain yang dipakai berbelah di depan (split), ada yang hanya mengikatkan kerudung pada kepala tanpa menutup dada, ada yang memakai bawahan hanya ngepas pada mata kaki dan tanpa kaos kaki, ada juga yang memakai baju berlengan panjang hingga pergelangan tangan tanpa decker/kaos tangan, sehingga jika diangkat tangannya maka akan terlihat perhiasan yang ada di tangannya, ada yang pakai kerudung tapi untaian rambutnya lebih panjang daripada kerudungnya ada yang pakai kerudung “saringan tahu” karena saking tipisnya sehingga rambut dan ikat rambutnya terlihat jelas, ada yang pakai jilbab dengan corak warna yang mencolok sehingga bisa mencuri perhatian sekitar terutama laki-laki. Ada yang menghiasi jilbab dengan renda dan asesoris yang mencolok seperti bros, yang terakhir, ada yang jilbab “nyekek leher” lalu luarnya ditambah kerudung/kain yang berbeda warna dengan yang di dalam, yang terlihat seperti “Biarawati Nasrani” …wal iya dzubillah.

Bagi wanita muslimah yang memakai jilbab jenis ketiga ini, apakah bisa dikatakan sudah cukup dan lebih “mending” dan baik daripada yang tidak pakai sama sekali?

Jawabannya, justru bisa jadi wanita tersebut berdosa karena melanggar batasan-batasan syari’at tentang jilbab dan busana muslimah. Hal ini jika kita cermati, niscaya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan dari jenis jilbab “gaul” ini, antara lain:

A. JILBAB GAUL TIDAK MENUTUP AURAT SECARA SEMPURNA (HANYA “MEMBUNGKUS” AURAT)

Aurat wanita adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Namun, banyak dari busana muslimah saat ini, tidak menutupi aurat secara keseluruhan. Masih ada saja celah-celah yang menampakkan aurat mereka. Di antara mereka masih ada yang menampakkan leher, lengan, tangan, kaki. Padahal jilbab syar’i adalah yang menutup aurat secara sempurna, kecuali muka dan telapak tangan saja.

Dari Abu Dawud, dari Aisyah berkata, bahwa Asma suatu kali mendatangi Rasulullah dengan mengenakan pakaian tipis lalu Rasulullah berkata kepadanya,”Wahai Asma’, wanita yang telah haid (maksudnya telah baligh), tidak boleh terlihat darinya kecuali ini, beliau mengisyaratkan ke mukanya dan telapak tangannya.” (HR.Abu Dawud no.4104)

B. JILBAB GAUL MENARIK PERHATIAN KAUM LELAKI

Di antara tujuan jilbab adalah melindungi diri dari godaan lelaki dan menghindar dari fitnah, namun jilbab gaul justru malah menarik perhatian kaum lelaki. Bagaimana mungkin jilbab justru menarik perhatian kaum lelaki? Hal ini disebabkan antara lain:

– Jilbab gaul berwarna warni dan dihiasi berbagai macam motif. Syaikh al Albani menegaskan, “Tujuan disyari’atkannya memakai jilbab adalah untuk menutup perhiasan wanita, maka tidak masuk akal jika seorang wanita muslim memakai jilbab yang penuh motif & hiasan”. (Jilbab Mar’ah Muslimah: 120)

Oleh karenanya, Allah berfirman,”Dan janganlah menampakkan perhiasannya” (QS.An Nur: 31). Keumuman ayat ini menunjukkan bahwa hiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah mencakup pakaian itu sendiri jika dipenuhi oleh hiasan yang menarik perhatian kaum lelaki.

APAKAH BERARTI SEORANG WANITA MUSLIM HARUS MEMAKAI PAKAIAN HITAM?

Tidak juga, karena kriteria pakaian bagi muslimah adalah pakaian yang berwarna lazim atau familiar, tidak menjadi pusat perhatian. Sehingga, jika suatu daerah justru membenci warna hitam, maka tidak mengapa dia memilih pakaian berwarna terang seperti merah, hijau, dll jika termasuk pakaian yang lazim dipakai.

Ibrahim an Nakha’i suatu hari bersama Alqamah mendatangi para istri Nabi, mereka berdua mendapatkan istri para Nabi memakai pakaian berwarna merah. (Jilbab Mar’ah Muslimah: 122)

– Jilbab gaul tipis dan transparan

Menutup aurat tidak mungkin terwujud dengan pakaian tipis dan transparan, justru dengan pakaian tipis, akan menambah fitnah dan menjadi hiasan bagi kaum wanita. Karenanya Nabi ﷺ bersabda, ”Dua golongan dari ahli Neraka yang tidak pernah aku lihat: seseorang membawa cambuk seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepalanya bagai punuk onta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya,sekalipun ia bisa didapatkan sejauh perjalanan sekian dan sekian.” (HR.Muslim)

Ibnu Abdil Barr mengatakan,”Makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’ (berpakaian tapi telanjang) adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutup dengan sempurna). Mereka berpakaian, namun hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Mar’ah Muslimah: 125-126)

– Jilbab Gaul ketat, memakai jilbab itu bertujuan menghindari fitnah, dan hal ini tak mungkin terwujud dengan memakai pakaian ketat. Meskipun terkadang pakaian ini menutupi warna kulit, namun pakaian seperti ini menampakkan sebagian bahkan seluruh lekuk tubuh.

– Jilbab Gaul berparfum, padahal Nabi ﷺ menegaskan,”Tidaklah seorang wanita memakai minyak wangi lalu keluar melewati sebuah kaum supaya mereka mencium parfumnya, maka sesungguhnya wanita itu adalah pezina.” (HR.Ahmad)

– Jilbab Gaul menyerupai wanita-wanita kafir, karena biasanya jilbab gaul mengikuti mode yang sedang berkembang di dunia barat kemudian dipoles sedikit dengan nuansa Islami, belum lagi dengan model yang sedang nge- trend yang menyerupai biarawati nasrani..wal iya dzubillah

MENGAPA FENOMENA INI SEMAKIN MARAK DAN DIGANDRUNGI OLEH SEBAGIAN REMAJA PUTERI DAN WANITA MUSLIMAH?

Boleh jadi hal ini disebabkan pengetahuan mereka yang minim mengenai jilbab yang syar’i. Sehingga mereka hanya ikut-ikutan saja, sebab pemahaman keIslamannya masih minim. Atau mereka termakan berbagai propaganda musuh-musuh Islam yang ingin menggiring kaum muslimah keluar rumah dalam keadaan “telanjang” dengan alasan emansipasi, kesetaraan gender,dll. Propaganda lainnya yang menyebutkan bahwa jilbab hanya adat dan budaya negara Arab saja, dsb.

Bagaimana solusinya? Tentunya dengan menanamkan pendidikan Islam secara menyeluruh dan berkesinambungan kepada para generasi muda umat ini dimulai dari diri mereka sendiri.

Wallahu A’lam

 

jilbab-syari

Bekasi, 29-02-2012

Diketik ulang: Salim Ibnu Abdul Choliq

Sumber: Sakinah vol.10 no. 8

Pacarmu, Bukan Istrimu…!

Entah siapa yang memulai tapi kemudian seperti menjadi doktrin atau tradisi kalau remaja itu harus berpacaran. Tidak berpacaran berarti belum komplit menjadi remaja. Ya, itu bukan cuma di Indonesia, tapi setahu saya terjadi di hampir seluruh dunia.

Kalau kamu punya saudara perempuan, kamu pantas cemas. Begitu pula orangtua yang punya anak perempuan. Khawatir godaan pergaulan bebas semakin menjadi-jadi.

Read more…

Syaikh Utsaimin Ditanya tentang Hukum Merayakan Hari Ibu

Jawaban:

Semua perayaan yang tidakk diajarkan oleh syariat agama adalah perayaan-perayaan bid’ah, tidak dikenal pada masa as-Salafush Shalih, dan sangat mungkin awalnya berasal dari selain kaum Muslimin. Maka, selain hal itu merupakan perbuatan bid’ah, juga berarti menyerupai musuh-musuh Allah. Perayaan-perayaan Syar’i itu telah diketahui oleh semua pemeluk Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha serta hari raya Pekanan, yaitu “hari Jum’at”.
Dalam Islam, tidak ada perayaan-perayaan yang lain selain yang tiga ini, maka semua perayaan baru selain yang tiga itu adalah tertolak kepada yang mengadakannya dan hukumnya batil dalam syariat Allah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (bagian) darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)

Maksudnya adalah ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lain disebutkan,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka hal itu tertolak.” (HR. Muslim)

Karena itu, maka tidak boleh merayakan hari raya yang disebutkan dalam petanyaan tadi yang dikenal dengan istilah “Hari Ibu”. Tidak boleh mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaan, seperti: Menampakkan kegembiraan dan keceriaan, mempersembahkan hadiah, dan lain sebagainya.

Seharusnya seorang Muslim merasa Mulia dan bangga dengan agamanya, dan hendaknya cukup melakukan apa yang telah ditetapkan Allah bagi para hambaNya, tidak menambah ataupun menguranginya. Lain dari itu, hendaknya seorang Muslim tidak menjadi pengekor yang mengikuti setiap propaganda, bahkan sebaliknya, ia harus membentuk kepribadiannya sesuai dengan syariat Allah sehingga menjadi orang yang ditiru, bukan yang meniru, dan menjadi teladan bukan pecundang, karena syariat Allah, alhamdulillah, adalah sempurnya dari berbagai segi, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firmanNya

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agamamu.” (Qs. Al-Maidah: 3)

Ibu, lebih berhak untuk dimuliakan daripada hanya dikhususkan satu hari sajadalam setahun, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga, diperhatikan dan ditaati dalam hal-hal yang bukan kemaksiatan terhadap Allah di setiap waktu dan tempat.
(Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, no. 353)

images

Disalin dari Ensiklopedia Bid’ah terbitan Daarul Haq

Sumber: artikelassunnah.blogspot.com

Saudariku, Kembalilah ke Rumah….

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sungguh merupakan musibah besar yang melanda umat Islam tatkala kaum muslimah keluar dari rumahnya dalam keadaan berpakaian tetapi telanjang. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa perempuan-perempuan semacam itu tidak akan mencium bau surga.

Beliau bersabda, “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya… (salah satunya) para wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berlenggak-lenggok. Rambut kepala mereka seperti punuk unta, mereka itu tidak akan mendapatkan baunya surga padahal bau surga itu bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Saudariku, kalau engkau masih mau mendengar nasihat Nabimu maka kenakanlah jilbabmu dengan benar!

Mengekor Barat

Memang sejak jauh hari Nabi telah memperingatkan bahwa akan ada diantara umat ini yang mengikuti budaya orang-orang terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Imam Bukhori telah mencatat sabda Beliau, “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti gaya hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhobb (sejenis biawak) niscaya ada di antara kalian yang ikut masuk pula ke dalamnya.”

Lihatlah wanita-wanita muslimah di sekeliling kita, bukankah selama ini sebagian besar dari mereka menjadi korban budaya barat yang kafir itu? Hampir segalanya mereka tiru; mulai dari cara berpakaian, cara berinteraksi dengan lawan jenis, bahkan sampai pola pikir yang hedonis (mencari kesenangan dunia semata) dan ujung akhirnya mereka turut bercampur baur dengan kaum lelaki di kantor-kantor, di parlemen dan restoran-restoran. Kini terbuktilah perkataan Nabi yang mulia, dan sungguh sangat ironi tatkala mereka melakukan ini semua dengan bertameng emansipasi yang digembor-gemborkan oleh barat.

Ikutilah Jejak Ibunda

Duhai saudariku, andaikata apa yang kalian lakukan ini dengan bercampur baur bersama kaum pria di pemerintahan, di kantor-kantor adalah kemaslahatan untuk kaum muslimah tentulah para isteri Nabi dahulu adalah orang pertama yang melakukan perbuatan sebagaimana yang kalian lakukan sekarang ini? Lalu mengapa kalian melakukan apa yang tidak mereka lakukan? Apakah kalian merasa lebih cerdas dari ibunda ‘Aisyah yang menyadari kesalahannya tatkala berani memimpin pasukan ketika terjadi perang Jamal? Beliau benar-benar menyesal karena melalaikan sebuah sabda Rosululloh, “Tidak akan pernah beruntung kaum manapun yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (HR. Bukhori). Cobalah bandingkan dengan sebagian kaum muslimah dewasa ini yang dengan bangga memamerkan auratnya di layar kaca yang ditonton oleh ribuan pasang mata! Atau mereka yang dengan berapi-api berteriak-teriak berdemo di jalan-jalan dengan dalih untuk membela hak kaum muslimin, dan lebih lucunya lagi berdalil dengan perbuatan Aisyah yang telah disesali tersebut. Atau mereka yang berkoar-koar di atas mimbar demi mendapatkan kursi DPR serta rela bercampur baur dengan lelaki yang bukan mahromnya. Allohu akbar!, hanya kepada-Nya lah kami mohon pertolongan.

Kembalilah ke Istanamu

Seorang muslimah yang sholihah yang senantiasa menjaga dirinya, memiliki rasa malu dan memelihara kehormatannya itulah yang dipuji oleh syari’at. Dengan aktivitasnya mengurus rumah dan membekali dirinya dengan ilmu syar’i atau mendidik anak-anak maka dengan demikian ia telah turut serta berusaha mewujudkan masyarakat islami. Melalui tangan-tangan dan didikan merekalah akan terlahir pemuda-pemudi yang berbakti kepada Alloh dan Rosul-Nya. Namun sayang sekali betapa sedikitnya wanita semacam ini.

electrocuted_flowers00

 

***

artikel: http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/saudariku-kembalilah-ke-rumah.html

Keutamaan Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha

Pernikahan Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- dengan ‘Aisyah -Radiallahuanha- tidaklah seperti pernikahan manapun. Sungguh, Allah -Subhanahu wata’ala- telah memerintahkan Nabi-Nya -Shalallahu alaihi wasalam- untuk menikahi ‘Aisyah -Radiallahuanha-. Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- telah melihat ‘Aisyah -Radiallahuanha- di dalam mimpi beliau -Shalallahu alaihi wasalam- sebelum pernikahan. Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda kepada ‘Aisyah -Radiallahuanha-:

« رَأَيْتُكِ فِى الْمَنَامِ [مَرَّتَيْنِ] يَجِىءُ بِكِ الْمَلَكُ فِى سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ فَقَالَ لِى هَذِهِ امْرَأَتُكَ . فَكَشَفْتُ عَنْ وَجْهِكِ الثَّوْبَ ، فَإِذَا أَنْتِ هِىَ فَقُلْتُ إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ »

“Aku telah melihatmu di dalam mimpi [dua kali]. Satu malaikat datang dengan membawa (gambar)mu dalam sebuah potongan sutera yang bagus. Dia berkata kepadaku: “Ini adalah istrimu.” Maka akupun menyingkap wajahmu, ternyata engkaulah orangnya. Maka kukatakan, ‘Jika ini adalah dari sisi Allah, niscaya Dia akan melaksanakannya.” (HR. al-Bukhari (4832), (Ahmad )

Dia adalah istri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- di dunia dan akhirat, sebagaimana telah valid di dalam as-Shahih.

Kecintaan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- kepadanya dinampakkan secara terang-terangan, tidak disembunyikannya. Hingga beliau -Shalallahu alaihi wasalam- pernah ditanya:

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : عَائَشِةُ قَالَ : فَمِنَ الرِّجَالِ ؟ قَالَ : أَبُوْهَا

“Manusia yang mana yang paling anda cintai, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “’Aisyah.” Dia bertanya lagi, ‘Lalu dari golongan laki-laki?’ Beliau menjawab: “Bapaknya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Adapun ilmunya, maka sungguh ‘Aisyah –Radiallahuanha- telah mengambil banyak ilmu dari Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam-. Dia termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadits. Dan tidak ditemukan pada wanita ummat Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- yang lebih mengerti tentang agama Islam daripada ‘Aisyah -Radiallahuanha-.

Al-Hakim dan ad-Darimi meriwayatkan dari Masruq, bahwa dikatakan kepadanya, “Apakah dulu ‘Aisyah ahli dalam bidang faraidh?” Dia menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku telah melihat para sahabat Nabi yang besar bertanya kepadanya tentang faraidh.”

Az-Zuhri berkata,

“Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan (kemudian) dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, maka pastilah ilmu ‘Aisyah lebih utama.”

Dari Abu Musa, dia berkata,

“Tidaklah ada sebuah haditspun yang sulit atas kami para sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, kemudian kami bertanya kepada ‘Aisyah -Radiallahuanha-, kecuali kami temukan ilmunya ada padanya.”

‘Atha bin Abi Rabah berkata,

“Aisyah adalah orang yang paling faqih dan alim, serta orang yang paling baik pendapatnya secara umum.”

Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Sesungguhnya ‘Aisyah adalah satu-satunya orang di zamannya yang (ahli) dalam tiga disiplin ilmu; ilmu fiqih, ilmu kedokteran dan ilmu sastra.”

Adapun keutamaannya, maka sangat banyak. Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلىَ النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلىَ سَائِرِ الطَّعَامِ

“Banyak di antara kaum laki-laki yang sempurna, akan tetapi tidak ada wanita yang sempurna kecuali Maryam bintu ‘Imran, Asiyah istri Fir’aun. Dan keutamaan ‘Aisyah atas kaum wanita seperti keutamaan tsarid (bubur yang sangat disukai oleh Rasul -Shalallahu alaihi wasalam-) atas seluruh makanan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari ‘Aisyah -Radiallahuanha-, dia berkata, Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

« يَا عَائِشَةُ هَذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ ، قَالَتْ : قُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ »

“Wahai ‘Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Dia berkata, aku katakan, ‘wa’alaihissalâm warahmatullâhi.” (Muttafaqun ‘alaih)

لَقَدْ أُعْطِيْتُ تِسْعاً مَا أُعْطِيَتْهَا امْرَأَةٌ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، لَقَدْ نَزَلَ جِبْرِيْلُ بِصُوْرَتِيْ فِيْ رَاحَتِهِ حَتىَّ أَمَرَ رَسُوْلَ اللهِ أَنْ يَتَزَوَّجَنِيْ، وَلَقَدْ تَزَوَّجَنِيْ بِكْراً وَمَا تَزَوَّجَ بِكْراً غَيْرِيْ، وَلَقَدْ قُبِضَ وَرَأْسُهُ لَفِيْ حِجْرِيْ، وَلَقَدْ قَبَّرْتُهُ فِيْ بَيْتِيْ، وَلَقَدْ حَفَّتْ الْمَلاَئِكُةُ بَيْتِيْ، وَإِنْ كَانَ الْوَحْيُ لَيَنْزِلُ عَلَيْهِ وَهُوَ فَيْ أَهْلِهِ فَيَتَفَرَّقُوْنَ عَنْهُ وَإِنْ كَانَ لَيَنْزِلُ عَلَيْهِ وَإِنِّيْ لَمَعَهُ فِيْ لِحَافِهِ، وَإِنِّيْ لَابْنَةُ خَلِيْفَتِهِ وَصِدِّيْقِهِ، وَلَقَدْ نَزَلَ عُذْرِيْ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَقَدْ خُلِقْتُ طِيْبَةً وَعِنْدَ طِيْبٍ، وَلَقَدْ وُعِدْتُ مَغْفِرَةً وَرِزْقاً كَرِيْماً.

“‘Aisyah -Radiallahuanha- berkata: “Sungguh aku telah diberi sembilan hal yang tidak diberikan kepada seorang wanita kecuali kepada Maryam bintu ‘Imran;

(1)Jibril telah turun dengan membawa gambarku, dalam mimpi beliau hingga dia memerintahkan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- untuk menikahiku;

(2) beliau telah menikahiku yang dalam keadaan perawan, dan tidak pernah beliau menikahi perawan selainku;;

(3) beliau wafat sementara kepala beliau ada pada pangkuanku;

(4) aku telah mengebumikan beliau di rumahku; rumahku dikepung oleh para malaikat;

(5) jika wahyu turun atas beliau sementara beliau berada pada istrinya, maka merekapun berpencar dari beliau, dan sungguh wahyu pernah turun atas beliau sementara aku bersama dengan beliau dalam satu selimut;

(6) sesungguhnya aku adalah putri khalifahnya, dan shiddiqnya;

(7) telah turun pembelaanku (yang membersihkan aku dari tuduhan zina) dari langit;

(8) aku diciptakan dalam keadaan suci dan pada keadaan suci;

(9) aku telah dijanjikan ampunan dan rizqi yang mulia (surga).” (HR. Abu Ya’la)

Sayyidah ‘Aisyah -Radiallahuanha- telah wafat pada usia 66 tahun. Dia telah memenuhi dunia dengan ilmu, keutamaan dan ketaqwaannya.

Sayyidah ‘Aisyah -Radiallahuanha- adalah ibunda setiap umat Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam-, maka tidak ada yang membencinya kecuali Yahudi, Nashrani dan kaum munafiq.

Mudah-mudahan Allah meridhainya dan meridhai seluruh ummahatul mukminin. (AR)*

* Majalah Qiblati Volume 4 Edisi 6

PF_12_00000000B316_VA0122_W1_PF

Post Navigation

%d bloggers like this: