Catatan Kajian Ilmiah

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar’i), maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Muslim)

Archive for the category “Akhlak”

Agar Seorang Pengusaha Tidak Lalai

بسم الله الرحمن الرحيم

     Penguasaha dan kelalaian, apa hubungannya? Bukankah setiap aktivitas dalam hidup manusia berpotensi untuk melalaikan mereka dari mengingat Allah ? Lantas mengapa sifat lalai seolah-olah diidentikkan dengan dunia uasaha dan bisnis? Bukankah dokter, pegawai, buruh bahkan pengangguranpun bisa lalai?

Jawabannya: memang benar bahwa semua aktivitas manusia berpotensi untuk melalaikan mereka dari mengingat Allah , akan tetapi, tahukah anda bahwa sebagian dari para ulama menyifati dunia bisnis dan jual-beli sebagai urusan dunia yang paling besar pengaruh buruknya dalam menyibukkan dan melalaikan manusia dari mengingat Allah [1]?

Inilah yang terungkap dalam makna firman Allah :

{رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ}

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS an-Nuur:37).

Imam asy-Syaukani berkata: “(Dalam ayat ini) Allah menyebutkan perdagangan secara khusus karena inilah (aktivitas) yang paling besar (potensinya) dalam melalaikan manusia dari mengingat Allah[2].

Hal ini dikarenakan aktivitas usaha perdagangan berhubungan dengan harta benda dan keuntungan duniawi, yang tentu saja ini merupakan ancaman fitnah (kerusakan) besar bagi seorang hamba yang tidak memiliki benteng iman yang kokoh untuk menghadapi dan menangkal fitnah tersebut.

Rasulullah  bersabda:

«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ»

“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta”.

Maksudnya: menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah  dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya:

{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ}

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS at-Tagaabun:15)[3].

Oleh karena itu, pasar dan tempat berjual-beli yang merupakan tempat kesibukan mengurus harta perniagaan adalah tempat berkumpulnya setan dan bala tentaranya, yang selalu berusaha untuk membuat manusia lalai dan lupa mengingat Allah [4].

Inilah makna sabda Rasulullah : “Tempat yang paling dicintai Allah adalah mesjid dan yang paling dibenci-Nya adalah pasar”[5].

Berikut ini, beberapa petunjuk dalam Islam bagi seorang pedagang dan pengusaha untuk memudahkan dirinya terhindar dari kelalaian dan tipu daya setan, dengan taufik dari Allah :

1- Selalu berdoa kepada Allah  memohon keteguhan iman dan penjagaan dari segala bentuk fitnah yang merusak agama.

Di antara doa yang sering diucapkan oleh Rasulullah  adalah: “Ya (Allah) Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”[6].

2- Berusaha menjaga batasan-batasan syariat Allah  dalam semua aktivitas yang dilakukan,baik dalam urusan agama, jual-beli, pergaulan maupun urusan dunia lainnya.

Rasulullah  bersabda: “Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu (dari segala keburukan), jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu)”[7].

3- Berzikir kepada Allah  dengan hati dan lisan sebelum masuk pasar dan tempat berjual-beli lainnya, serta selalu mengingat-Nya, agar terhindar dari kelalaian.

Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang masuk pasar kemudian membaca (zikir): Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang maha hidup dan tidak pernah mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu”, maka allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat – dalam riwayat lain: dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga – ”[8].

Imam ath-Thiibi berkata: “Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah  berfirman tentang keutamaan mereka:

{رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur:37-38)[9].

4- Bersegera melaksanakan shalat lima waktu ketika adzan dikumandangkan dan meninggalkan segala kesibukan jual-beli dan urusan dunia lainnya.

Imam al-Qurthubi berkata: “Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan/dilalaikan dengan perniagaan (usaha)nya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya, maka ketika tiba waktu shalat fardhu hendaknya dia (segera) meninggalkan perniagaannya (untuk menunaikan shalat), agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah ) dalam ayat tersebut (di atas)”[10].

5- Berusaha meluangkan waktu untuk melaksanakan shalat dhuha, terutama di saat-saat manusia sedang lalai dan disibukkan dengan urusan jual beli. Inilah yang disebut sebagai shalat al-Awwaabiin, yaitu orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah  dengan selalu mentaati-Nya dan bertaubat dari perbuatan dosa[11].

Rasulullah  bersabda: “Shalat para al-Awwaabiin (di waktu dhuha) adalah ketika anak-anak onta kepanasan (karena cahaya matahari)”[12].

Shalat pada waktu ini dinamakan shalatnya para al-Awwaabiin karena pada waktu ini biasanya manusia sedang disibukkan dengan urusan dan perniagaan dunia, akan tetapi hamba-hamba Allah  yang shaleh dan selalu kembali kepada-Nya memanfaatkan waktu ini untuk beribadah dan berzikir kepada Allah [13].

Demikianlah dan semoga bermanfaat bagi para pembaca dengan izin Allah , amiin.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 15 Rabi’uts tsani 1434

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 


[1] Lihat kitab tafsir “fathul Qadiir” (4/52).

[2] Ibid.

[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/507).

[4] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/272) dan “Faidhul Qadiir” (1/170).

[5] HSR Muslim (no. 671).

[6] HR at-Tirmidzi (4/448), Ibnu Majah (no. 3834) dan Ahmad (3/112), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[7] HR at-Tirmidzi (4/667) dan Ahmad (1/293), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[8] HR at-Tirmidzi (no. 3428 dan 3429), Ibnu Majah (no. 2235), ad-Daarimi (no. 2692) dan al-Hakim (no. 1974) dari dua jalur yang saling menguatkan. Dinyatakan hasan oleh imam al-Mundziri (dinukil oleh al-mubarakfuri dalam kitab “’Aunul Ma’bud” 9/273) dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shahihul jaami’” (no. 6231).

[9] Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/273).

[10] Kitab “Tafsir al-Qurthubi” (5/156).

[11] Lihat “Syarhu shahih Muslim” (6/30) dan “Bahjatun naazhiriin” (2/310).

[12] HSR Muslim (no. 748) dan Ibnu Hibban (no. 2539) dari Zaid bin Arqam t.

[13] Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam” (2/445).

 

sumber: http://manisnyaiman.com/agar-seorang-pengusaha-tidak-lalai/

Advertisements

Pengaruh Teman Bergaul yang Baik

Teman bergaul dan lingkungan yang Islami, sungguh sangat mendukung seseorang menjadi lebih baik dan bisa terus istiqomah.
Sebelumnya bisa jadi malas-malasan. Namun karena melihat temannya tidak sering tidur pagi, ia pun rajin. Sebelumnya menyentuh al Qur’an pun tidak. Namun karena melihat temannya begitu rajin tilawah Al Qur’an, ia pun tertular rajinnya.
Perintah Agar Bergaul dengan Orang-Orang yang Sholih
Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺗُﺘْﻠَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺁَﻳَﺎﺕُ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﻭَﻓِﻴﻜُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺘَﺼِﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪْ ﻫُﺪِﻱَ ﺇِﻟَﻰ
ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻢٍ
” Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah
dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada
(agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. ” (QS.
Ali ‘Imran: 101).

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻣَﻊَ
ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗِﻴﻦَ
” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur) .” (QS. At
Taubah: 119).

Berteman dengan Pemilik Minyak Misk
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.
ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟْﺠَﻠِﻴﺲِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ ﻭَﺍﻟْﺠَﻠِﻴﺲِ ﺍﻟﺴَّﻮْﺀِ ﻛَﻤَﺜَﻞِ
ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻚِ ، ﻭَﻛِﻴﺮِ ﺍﻟْﺤَﺪَّﺍﺩِ ، ﻻَ ﻳَﻌْﺪَﻣُﻚَ ﻣِﻦْ
ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻚِ ﺇِﻣَّﺎ ﺗَﺸْﺘَﺮِﻳﻪِ ، ﺃَﻭْ ﺗَﺠِﺪُ ﺭِﻳﺤَﻪُ ،
ﻭَﻛِﻴﺮُ ﺍﻟْﺤَﺪَّﺍﺩِ ﻳُﺤْﺮِﻕُ ﺑَﺪَﻧَﻚَ ﺃَﻭْ ﺛَﻮْﺑَﻚَ ﺃَﻭْ ﺗَﺠِﺪُ ﻣِﻨْﻪُ
ﺭِﻳﺤًﺎ ﺧَﺒِﻴﺜَﺔ

ً
“ Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat
baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau
dapat baunya yang tidak enak. ” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat
dalam agama dan dunia.” [1]

Memandangnya Saja Sudah Membuat Hati Tenang

Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih.
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
ﻧَﻈْﺮُ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻳَﺠْﻠُﻮ ﺍﻟﻘَﻠْﺐَ

“ Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati. ”

[2]
Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.
‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,

“Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”

Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” [3]
Ibnul Qayyim mengisahkan,

“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan
dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”

. [4]

Lihatlah Siapa Teman Karibmu!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ
“ Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa
yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).
Al Ghozali rahimahullah mengatakan,

“Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud
dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman
dekatnya.”

[5]
Oleh karena itu, pandai-pandailah memilih teman bergaul. Jauhilah teman bergaul yang
jelek jika tidak mampu merubah mereka. Jangan terhanyut dengan pergaulan yang malas-malasan dan penuh kejelekan. Banyak sekali yang menjadi baik karena pengaruh
lingkungan yang baik. Yang sebelumnya malas shalat atau malas shalat jama’ah, akhirnya mulai rajin. Sebaliknya, banyak yang menjadi rusak pula karena lingkungan yang jelek.

Semoga Allah mudahkan dan beri taufik untuk terus istiqomah dalam agama ini.

Disusun di Sakan 27, KSU, Riyadh, KSA, pada 26 Syawal 1431 H (4/10/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://www.remajaislam.com

_____________
[1] Fathul Bari , Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324,
Darul Ma’rifah, Beirut, 1379
[2] Siyar A’lam An Nubala’ , 8/435, Mawqi’
Ya’sub.
[3] Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas , Sayyid
bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani,
cetakan pertama, tahun 1421 H
[4] Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib , antara
hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy
[5] Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala Al
Mubarakfuri, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut,
7/42

Halang Rintang Menjadi Shalihah

1. Tidak mengerti masalah agama, sehingga mengira pernikahan hanya untuk urusan pemuas biologis.

Betapa pernikahan menduduki posisi yang mulia dalam Islam. Ia bukan sekadar lembaga untuk menghalalkan “aktivitas ranjang”. Namun lebih dari itu. Menikah merupakan babak baru dari seorang individu muslim menjadi sebentuk keluarga di mana ia akan menegakkan syariat agama ini bukan hanya untuk dirinya sendiri namun juga terhadap pasangan hidupnya, anak-anaknya, dst.

Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (mitsaqon gholidhoo), sebagaiman firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. [An-Nisaa’ : 21].

Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khusunya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sunguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail.

Perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.

Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak “Lembaga Pendidikan Islam”, tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

2. Bayangan tidak sesuai dengan realita

Kehidupan rumah tangga adalah perjalanan yang penuh dengan pasang surut. Kadang hubungan antara suami istri begitu mesra dan menyenangkan, namun di saat lain bisa panas dan mencemaskan. Baik suami maupun istri bisa menjadi penyebab timbulnya persoalan. Memahami bagaimana Islam memberikan tuntunan dalam menyelesaikan ketidakharmonisan hubungan suami istri sangat penting untuk diketahui kedua pihak.

Dalam bayangannya pernikahan itu ibarat taman bunga yang selalu indah, harum semerbak, didampingi seorang kekasih yang selalu sejalan, penuh cinta dan pengertian. Namun ketika ia memasuki kehidupan rumah tangga, ia tidak mendapatkan apa yang dia khayalkan sebelumnya hingga kekecewaan merebak di hatinya.

Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?

Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.

Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.

Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.

Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.

Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.

Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.

Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.

Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.

Dalam kaitannya dengan kehidupan keluarga juga tidak bisa dipisahkan dengan pembicaraan tentang kekurangan dan ketidaksempurnaan manusia ini. Kesiapan menerima pasangan hidup dengan segala kekurangan yang ada padanya menjadi satu kemestian. Karena kita adalah anak manusia yang tidak sempurna, menikah dengan manusia yang tidak sempurna pula. Namun kenyataannya, dalam perjalanan rumah tangga terkadang muncul kekecewaan yang berbuah kebencian terhadap pasangan hidupnya karena kekurangan dimilikinya, walaupun tetap menyadari “tak ada gading yang tak retak”.

لاَ يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Bisa jadi, ia benci dari si istri satu perangai, dia akan ridha terhadap perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Tidak ada manusia tanpa kekurangan dan kekeliruan termasuk Anda. Jika itu yang ada dalam pikiran Anda, bukankah hal yang sama juga ada dalam pikiran pasangan Anda? Kalau begitu kapan Anda dengan pasangan berbaikan bila yang ada dalam pikiran hanya kekurangan semata? Bacalah ucapan penyair ini.

مَنْ ذَا الَذِى تُرْضَى سَجَايَاه كُلُّهَا
كَفَى بِالمَرْءِ نُبْلاً أَنْ تُعَدَّ مَعَايِبُهُ

Siapa gerangan yang seluruh sifatnya diterima
cukuplah seseorang itu dianggap baik jika aib-aibnya terhitung

Apabila seorang istri tidak mendapati adanya rasa cinta kepada suaminya, hendaklah dia berusaha dengan sungguh-sungguh memupuk cinta tersebut. Ibarat sebuah kebun, apabila digarap dan ditanami, ia akan tumbuh. Namun, apabila disia-siakan dan dibiarkan begitu saja, ia akan menjadi kering, tandus, dan tidak memberi hasil seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, hendaknya dia menyabarkan diri bergaul secara baik dengan suaminya, melihat sisi-sisi kebaikannya, menghargai apa yang dilakukan si suami untuknya, dan terus menemaninya.

Terkadang, cinta itu memang datang di kemudian hari, ketika usia tidak muda lagi. Ada suami istri, di saat-saat awal pernikahan sering timbul perselisihan di antara mereka. Kemudian mereka tersibukkan dengan anak-anak yang lahir di tengah mereka. Mengasuh, membesarkan, mendidik, dan mencari rezeki untuk menghidupi anak-anak adalah pekerjaan yang berat bagi mereka, menyita waktu dan pikiran. Mereka tersibukkan dengan semua itu dari memikirkan “adakah cinta?” Tatkala keduanya mencapai usia empat puluh tahun, di saat anak-anak berangkat remaja atau bahkan satu per satu meninggalkan rumah mereka guna mencari penghidupan di kota lain atau membentuk keluarga sendiri, masing-masing merasa bahwa pasangannya demikian berharga bagi dirinya. Datanglah rahmah dan mawaddah di tengah-tengah kebersamaan mereka. Sebuah rasa yang sepertinya dahulu belum pernah hadir di antara mereka.

Sudah menjadi kemestian bagi sepasang suami istri untuk memilih ucapan-ucapan yang baik saat berbicara dengan pasangannya. Seorang istri saat berbicara dengan suaminya hendaknya tidak bersuara lantang dan keras karena hal itu menunjukkan buruknya tabiat. Hendaklah seorang istri lembut dalam berbicara dengan suaminya dan merendahkan suara di hadapannya. Jangan memandang suami terus-menerus dengan pandangan tajam sebagaimana halnya tatapan orang yang marah atau penuh selidik. Namun tataplah suami, tunduk dan arahkan pandangan ke bawah karena segan, hormat, dan malu kepadanya.

Saat diajak bicara oleh suaminya, tidak pantas seorang istri berpaling dari suaminya atau menyibukkan diri dengan urusan lain, padahal bisa jadi suaminya mengajaknya bicara dalam suatu urusan yang menurut suami adalah urusan yang sangat penting.

Lihatlah dirimu, wahai istri. Adakah Anda jadikan ucapan yang baik sebagai perantara untuk masuk menempati hati suamimu? Saat dia masuk rumah, adakah dia mendengar perkataan indah mengalir dari lisanmu? Apakah ketika lama dia meninggalkan rumah, datang telepon menanyakan kabarnya dengan kalimat yang indah? Atau datang kepadanya surat menuturkan kerinduan?

Seorang istri hendaklah pandai bercermin diri, jangan sampai ia menjadi sebab kesengsaraan dan pemicu masalah dalam rumah tangganya. Hendaknya ia berusaha “sesuai” dengan suaminya, tidak menyelisihinya.

Sejak awal kita mengakui bahwa tidak ada rumah tangga yang lepas sama sekali dari permasalahan atau problem, namun tentunya harus diketahui bagaimana penyelesaian problem tersebut sehingga berujung dengan kebaikan. Tidak benar anggapan sebagian orang bahwa satu-satunya jalan keluar dari permasalahan rumah tangga adalah mengurai ikatan pernikahan dengan talak (cerai).

Di antara hal yang bisa membantu menyelesaikan perselisihan suami istri adalah kelembutan, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, dan berhias dengan kesabaran. Kelembutan dan ketenangan adalah kunci bagi segala kebaikan dan pemimpin dari segala keutamaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرِِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasi sesuatu tersebut. Dan tidaklah dicabut kelembutan dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)

3. Hal Sepele yang Dibesar-besarkan, Mengambek Lalu Minta Cerai

Pasangan yang cerdas adalah yang berusaha mengubah kejenuhan yang mungkin muncul dalam kebersamaan yang telah dijalin dan mengupayakan kembalinya cinta ke dalam rumahnya. Sungguh, canda tawa dan kelembutan di antara suami istri berperan besar melipatgandakan kebahagiaan dalam rumah tangga.

Dengan demikian, kelembutan dan tidak terburu-buru mengambil keputusan adalah sesuatu yang dituntut dalam seluruh urusan kehidupan. Dengannya, seseorang bisa mengumpulkan pikirannya yang tercerai-berai, menghadirkan akalnya, serta tidak melangkah dan bertindak serampangan yang akan menghancurkan kehidupannya dalam waktu yang terbilang singkat.

Marilah kita saling bertanya, adakah kita telah mengambil cara-cara seperti ini sebagai pegangan dalam kehidupan berkeluarga: sikap tidak terburu-buru dan gegabah ketika terjadi masalah, membuka hati, dan melapangkan dada untuk menyelesaikan masalah? Seandainya hal ini kita lakukan, niscaya akan terselesaikan banyak masalah. Setelah itu, ditutupi dengan kedekatan dan kebahagiaan.

Yang penting dicamkan saat terjadi masalah di antara suami istri adalah melihat sisi-sisi kebaikan dari pasangan, tidak semata-mata melihat kesalahan. Akan tetapi, lihatlah berapa banyak kebaikan yang melekat pada dirinya. Ada suami yang berkata, “Istriku punya kekurangan pada sebagian sisi. Aku pandang hal itu sebagai sisi keburukannya. Akan tetapi, pada dirinya ada kebaikan yang banyak. Ia lembut hatinya, punya kasih sayang terhadap ayahku dan anak-anakku, dermawan suka memberi. Karena itu, aku bergaul dengannya dari sisi kebaikannya, bukan dengan melihat sisi buruknya. Karena itulah, kehidupanku berjalan di atas apa yang diinginkan.”

Apabila hal seperti ini diterapkan dalam kehidupan suami istri, niscaya ketenangan bisa terwujud. Lebih-lebih lagi, memang harus disadari bahwa jarang sekali seorang hamba bisa menikmati kehidupan yang sempurna tanpa dihampiri oleh kekurangan sedikit pun.

Dalam menjalani kebersamaan hidup dengan pasangan, seorang istri harus lebih banyak bersabar dan lapang dada menghadapi suami. Lelaki sebagai suami harus bergelut dengan kehidupan di luar rumah yang ia temui. Bisa jadi, banyak hal yang mengeruhkan hatinya. Bisa jadi, hal itu tampak pada wajahnya saat ia kembali ke dalam rumahnya. Apabila seorang istri tidak menghadapinya dengan pikiran jernih, tenang, lapang, dan memaklumi, niscaya akan rusak kehidupan.

Tidak sepantasnya ketika ada masalah dengan suami, seorang istri ngambek minta pulang ke rumah orang tuanya. Atau yang lebih parah lagi si istri minggat dari rumahnya, tanpa izin suami tentunya. Padahal di antara hak suami yang harus ditunaikan istri, si istri tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suami dan tidak halal bagi seorang pun mengambil istri seseorang dan menahannya dari suaminya, sama saja baik karena si istri tersebut seorang perawat, atau seorang bidan atau profesi lainnya. Bila istri tersebut keluar dari rumah suami tanpa izinnya, maka ia telah berbuat nusyuz, bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia pantas mendapatkan hukuman.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32/281)

Dengan demikian, bila ada permasalahan rumah tangga, seharusnya suami dan istri berusaha menyelesaikannya berdua bila memang masalahnya bisa diselesaikan berdua. Ibaratnya “tutup pintu rapat-rapat” dari masuknya pihak ketiga dan jangan sampai orang lain tahu masalah tersebut. Jangan tergesa-gesa melibatkan pihak luar, orang tua misalnya, karena dapat memperkeruh suasana, bukan memperbaiki keadaan. Melibatkan orang tua, apatah lagi orang tua yang masih awam, tidak memiliki pandangan dalam agama, belum tentu menyelesaikan masalah, malah bisa menambah panas dan keruhnya permasalahan. Terkecuali orang tua itu seorang yang arif, paham agama dan pandangannya lurus, barulah memungkinkan masalah yang ada diangkat padanya bila memang sepasang suami istri tidak bisa lagi menyelesaikannya berdua.

Keinginan bercerai ini harus dijauhkan dari benaknya karena setan bisa mengambil kesempatan dalam keadaan si insan labil akibat kemarahan seperti ini. Jika bisikan setan dituruti, dilakukanlah tindakan dan dijatuhkanlah keputusan yang tidak akan diambil saat hati itu tenang dan keadaan stabil. Akhirnya, sesal datang kemudian, ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Perceraian adalah jalan keluar terakhir yang diberikan oleh Islam saat hidup bersama sebagai sepasang suami istri tidak mungkin lagi diteruskan dan mustahil tetap dipertahankan. Perceraian bukanlah pedang atau cambuk yang dilecutkan kepada istri setiap kali si suami marah. Bahkan, termasuk kedunguan jika ada orang yang menyangka bahwa perceraian adalah solusi dari problemnya, padahal masih mungkin ditempuh cara-cara lain yang positif.

4. Senang mengkritik suami, misalkan “kamu nih kerja beberes aja gak bener”

Imam Al-Bukhari rohimabulloh mengatakan (1/583): “Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Atha dari Yasar dari Ibnu Abbas, ia berkata:

Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita karena mereka berbuat kufur. Beliau ditanya: “Apakah mereka mengkufuri Allah?” Beliau menjawab:

يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Mereka mengkufuri suami dan mengingkari kebaikannya, seandainya engkau berbuat baik pada salah seorang dari mereka selama satu tahun kemudian ia melihat sesuatu (yang tidak ia sukai) darimu, ia akan mengatakan: “Aku tidak pernah melihat satu kebaikanpun darimu.”

Semestinya kita bersyukur karena suami masih ringan tangan untuk membantu meringankan pekerjaan istri meski tak se telaten istri. Dalam hal urusan pengaturan perabot rumah tangga, persiapan sekolah anak-anak, dan hal-hal lain dalam rumah, maka wanita lebih jeli dan detail. Berbeda dengan para lelaki yang hanya bisa menilai secara global dan tidak detail. Karenanya para lelaki kurang bisa mengamati perubahan-perubahan detail yang terjadi di rumah, akan tetapi para lelaki bisa menilai dengan penilaian global bahwa kondisi rumah baik atau tidak. Adapun perubahan posisi pot bunga misalnya, atau pergantian taplak meja atau seprai kasur, atau perapian rambut anak-anak, atau tas baru milik anak-anak, sering kali para lelaki (para suami) tidak tanggap.

Jikalau Allah memberikan pandangan tajam bagi lelaki dalam hal pekerjaan dan rencana masa depan akan tetapi ternyata pandangan lelaki tidaklah tajam dan detail dalam pengurusan dan pengaturan dalam rumah. Allah menjadikan wanita lebih jeli dan detail dalam hal-hal rumah tangga.

Bayangkan jika seandainya Allah menjadikan seorang suami pandangannya detail dan jeli dalam perubahan kondisi dalam rumah, tentu sang suami akan menjadi seorang wanita yang cerewet, bahkan bisa jadi lebih cerewet dari pada seorang wanita !!!

5. Senang Mencampuri Urusan Suami

Persoalan-persoalan khusus suami yang tidak berkaitan dengan urusan rumah tangga, seperti perincian urusan kerja suami dan aktivitas seperti dakwah dan lainnya yang tidak mengganggu dan tidak mengusik ketenangan dan ketenteraman rumah tangga, dan tidak mengurangi kewajibannya dia dalam memenuhi hak-hak istri, sang istri tidak berkewajiban mengetahui dan mengorek atau mewancarai dengan seabrek pertanyaan kepada suami.

Tidak wajibnya bagi sang istri mengetahui persoalan-persoalan itu, bukan berarti istri tidak boleh mengetahuinya sama sekali. Akan tetapi, sang suami harus bisa melihat kondisi istrinya, apakah sang istri bisa membantunya mencari solusi atau tidak? Jika bisa, maka tidak ada halangan bagi suami untuk mengajak istri berdiskusi dalam persoalan-persoalan khususnya. Demikian pula sang istri, dia harus bisa memahami kondisi suami yang sedang terhimpit persoalan atau tidak, kemudian dia berusaha meringankan beban dan persoalan yang sedang menghimpit suami.

Jiika ada wanita yang selalu mengawasi gerak-gerik suaminya karena ketidakpercayaannya, maka pernikahan seseorang tidak akan berjalan mulus, bahkan yang muncul adalah kegelisahan, kecurigaan, tidak pernah merasa tenteram, dan sebagainya. Pada akhirnya, pasutri akan saling menyalahkan dan menuduh, semuanya terlahir dari sikap suka berprasangka buruk. Karenanya, salah satu unsur pokok dalam membina rumah tangga adalah rasa saling percaya dan tidak saling berprasangka buruk.

Seorang istri harus memahami keinginan pasangan, yaitu dengan memenuhi kecenderungan, keinginan, kesenangan pasangan tanpa celaan atau tindakan perlawanan terhadap keinginan pasangan, selama dalam koridor syariat. Karena suami terkadang membutuhkan waktu sejenak untuk menyendiri atau sekadar berkumpul dengan teman-temannya. Ini adalah kebutuhan alami setiap lelaki, tidak ada perbedaan antara satu lelaki dengan lainnya, para ahli psikolog menyatakan bahwa seorang suami terkadang lebih mengutamakan berada jauh sementara dari istri, hingga timbul rasa kangen kepada istrinya.

Oleh karena itu, wahai para istri, janganlah kamu menjadi batu penghalang jalan suamimu untuk memenuhi keinginannya dan kesenangannya selama dalam batasan syariat. Janganlah kamu belenggu kebebasan suamimu dengan banyak tanya dan wawancara rumit, agar suamimu tidak merasa terbelenggu sehingga benci hidup denganmu, karena seorang suami tidak suka sikap seperti itu, tidak suka merasa dirinya terbelenggu, tidak suka kalau istrinya selalu ingin bersamanya setiap saat, atau tidak suka kalau istrinya selalu curiga dengan pertanyaan-pertanyaan tiada habisnya.

6. Komunikasi yang Buruk Antar Suami Istri

Komunikasi suami istri dan keterbukaan dalam hidup berumah tangga sangatlah penting, bagaimana tidak? Bukankah hakikat pernikahan adalah sebuah ikatan kerja sama, saling menerima dan memberi, dan saling memberikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban? Bukankah ini semua tidak mungkin terlaksana kecuali dengan komunikasi dan keterbukaan suami istri?

Untuk mencairkan permasalahan dan menjinakkannya, diperlukan keterbukaan dan komunikasi intensif dari suami istri, jangan biarkan komunikasi dan keterbukaan suami istri membeku yang akan menyebabkan suami istri menutup diri, tidak terbuka menyampaikan masalahnya kepada pasangannya. Dengan adanya komunikasi suami istri, niscaya akan tercipta keluarga yang harmonis dan beralaskan cinta sejati. Cinta yang bersemi dalam hati, berkembang dalam kata, dan terurai dalam laku.

Perkara-perkara berkaitan langsung dengan rumah tangga seperti kebutuhan biologis, permasalahan yang sedang menghadang keluarga, perkembangan dan kondisi anak, dan perencanaan-perencanaan penting bagi keluarga untuk ke depannya seperti keuangan, pendidikan anak, dan lain-lain.

Perkara-perkara tersebut adalah perkara yang harus diketahui, saling dipahami, dan saling dimusyawarahkan oleh pasutri. Mereka berdua harus bisa memahami dan menghargai beratnya tanggung jawab yang dipikul di pundak mereka. Karena pernikahan itu, membutuhkan dua pasangan yang memiliki kecocokan dan yang telah matang pemikirannya. Bukan pasangan yang bermental anak kecil, karena hakikat pernikahan adalah membina keluarga dan penunaian tanggung jawab yang tidak ringan.

Betapa banyak pernikahan yang berakhir dengan kegagalan, karena kedua pasangan tidak memiliki tanggung jawab, masing-masing pasangan hanya ingin mencari ganti atas kekurangan yang selama ini dia rasakan sebelum menikah, mereka bermental anak kecil, tidak menghargai beratnya tanggung jawab yang dipikul oleh pundak mereka.

7. Banyaknya Permintaan Suami Membuat Istri Tidak Betah

Bersyukur adalah ciri dari hamba-hamba Allah yang mulia. Dan orang-orang yang bersyukur sangat sedikit, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“ … Sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.” [Saba’ :13]

Setiap mukmin dan mukminah diperintahkan untuk bersyukur karena dengan bersyukur, Allah akan menambahkan rizki yang telah Dia berikan kepadanya. Allah berfirman:

ذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.’” [Ibrahim : 7]

Seorang isteri diperintahkan untuk bersyukur kepada suaminya yang telah memberikan nafkah lahir dan batin kepadanya. Karena dengan syukurnya isteri kepada suaminya dan tidak banyak menuntut, maka rumah tangga akan bahagia. Isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya dan banyak menuntut merupakan pertanda isteri tidak baik dan tidak merasa cukup dengan rizki yang Allah karuniakan kepadanya.

Namun bila sebaliknya, pahamilah bahwa mungkin suamimu merasa engkau wajib melakukannya selama hal itu tidak mengajak kepada kemaksiatan pada Allah.

لَوْ كُنْتُ آمُرُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْـمَرْأَةََ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَلاَ تُؤَدِّي الْـمَرْأَةُ حَقَّ اللهِ k عَلَيْهَا كُلَّهُ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا عَلَيْهَا كُلَّهَا حَتَّى لَوْ سَأَلَـهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَىظَهْرِ قَتَبٍ لَأَعْطَتْهُ إِيَّاهُ
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah subhanahu wa ta’ala terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya. Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak).” (HR. Ahmad 4/381. Dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1998 dan Ash-Shahihah no. 3366)
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab: “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?” tanya Rasulullah lagi. Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4/341 dan selainnya, lihat Ash-Shahihah no. 2612)
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Dan kaum lelaki memiliki kedudukan satu derajat di atas kaum wanita.”
Hadits-hadits shahih yang ada memperkuat makna ini dan menjelaskan dengan terang apa yang akan diperoleh wanita dari kebaikan ataupun kejelekan, bila ia menaati suaminya atau mendurhakainya. (Adabuz Zifaf, hal. 175-176)

8. Pengingkaran Terhadap Keutamaan Suami

Di kalangan para  istri  banyak yang melupakan atau tidak tahu hak yang satu ini. Hingga kita dapati mereka sering mengeluhkan suaminya, melupakan kebaikan yang telah diberikan dan tidak ingat akan keutamaannya. Yang lebih disayangkan, ucapan dan penilaian miring terhadap suami ini kadang menjadi bahan obrolan di antara para wanita dan menjadi bahan keluhan sesama mereka. Padahal perbuatan seperti ini menghadapkan si istri kepada kemurkaan Allah dan adzab yang pedih. Perbuatan tidak tahu syukur ini  merupakan satu sebab wanita menjadi mayoritas penghuni neraka

549793_325228870931770_1183349928_n

9. Tidak memperhatikan kebutuhan seksual

Saudariku, suami yang selalu mengajak istrinya untuk berhubungan menunjukkan bahwa dia sayang kepada istrinya. Kebutuhan suami terhadap istri memang sangat besar, sehingga hendaknya Saudari menyadari hal itu.

Apalagi, wanita yang usianya masih muda setiap bulannya ada waktu haid, dan setelah melahirkan pun sang wanita membutuhkan “cuti” dari suaminya selama kurang lebih 40 hari karena syariat Islam melarang suami menggauli istrinya dalam kondisi tersebut. Belum lagi bila istri sakit atau ada uzur lain, dan juga suami yang sering keluar rumah karena mencari nafkah dan sebab-sebab yang lainnya.

Jika Saudari menolak permintaannya karena capek atau mengantuk, sedangkan suami hanya punya satu istri, maka kesalahan ada di pihak isri, karena suami tidak boleh melampiaskan kesenangannya kecuali kepada istri atau budaknya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Mukminun ayat 6.

Selanjutnya, bagaimana seharusnya istri bila diajak oleh suaminya? Perhatikan hadits di bawah ini.

Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَ زَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari: 16/199)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ

“Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

Dari Abi Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( وفي بُضع أحدكم صدقة ) – أي في جماعه لأهله – فقالوا : يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال عليه الصلاة والسلام : ( أرأيتم لو وضعها في الحرام ، أكان عليه وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر ) رواه مسلم

”Dan di dalam kemaluan salah seorang di antara kalian adalah sedekah.” -Maksudnya dalam jima’nya (hubungan intim) terhadap istrinya- Maka mereka (Sahabat) berkata:”Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang di antara kami mendatangi keluarganya (menunaikan syahwatnya/jima’) dan dia mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berabda:”Bukankah apabila dia menunaikannya (jima’) di tempat yang haram dia akan mendapatkan dosa?” Maka demikian juga seandainya dia menunaikannya di tempat yang halal (istrinya) maka dia akan mendapatkan pahala.”(HR. Muslim)

10. Pengaruh Dosa dan Kemaksiatan Dapat Mempengaruhi Bahtera Rumah Tangga

Seorang hamba yang senantiasa berbuat dosa, akan terasa remeh dosa tersebut di hatinya, dan ini adalah tanda kebinasaan, karena bila dosa itu telah dianggap remeh dan ringan akan semakin besar di sisi Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ  

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung, ia khawatir akan jatuh kepadanya. Dan sesungguhnya orang fajir (jahat) itu melihat dosa-dosanya seperti lalat yang lewat di depan hidungnya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata,

“Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

10504_253914964729828_471604283_npenyayang

jangan menyakiti suami

 

________

Tambahan Artikel:

http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalam-islam/

http://almanhaj.or.id/content/173/slash/0/konsep-islam-tentang-perkawinan/

http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun-bukan-malaikat.html/comment-page-1

http://asysyariah.com/bahtera-itu-akhirnya-berlayar.html

http://asysyariah.com/ketika-badai-menerpa.html

http://asysyariah.com/saat-terjadi-pertikaian.html

http://islamdiaries.tumblr.com/post/45246613169/cintaku-maafkanlah-suamimu-ini

http://majalahsakinah.com/2010/06/apakah-istri-harus-mengetahui-semua-persoalan-suami/

http://www.konsultasisyariah.com/istri-menolak-ajakan-suami-untuk-berhubungan/#axzz2NgNUGbF4

Nasihat Ummu Mu’ashirah Kepada Putrinya tentang Pernikahan

“Wahai putriku! Engkau akan menghadapi kehidupan yang baru. Kehidupan yang di dalamnya tidak ada tempat bagi ibumu, ayahmu, atau seorang pun dari saudara-saudaramu.

Engkau akan menjadi teman bagi seorang lelaki yang dia tidak ingin ada seorang pun menyertainya dalam memilikimu, sampai pun itu daging dan darahmu. Jadilah dirimu, wahai putriku, sebagai istri (yang baik) baginya dan jadilah engkau ibu baginya. Jadikanlah dia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam hidupnya dan segalanya bagi dunianya.

Ingatlah selalu bahwa lelaki itu, siapa pun dia, sebenarnya adalah anak kecil yang sudah besar sehingga sedikit saja kata yang manis sudah membuatnya senang. Jangan sampai engkau membuat dia merasa bahwa pernikahannya denganmu telah menghalangimu dari keluargamu dan kerabatmu. Sungguh, perasaan demikian terkadang menyergapnya. Dia juga harus meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karena dirimu. Hanya saja, perbedaan antara engkau dan dia adalah perbedaan antara perempuan dan lelaki. Perempuan selalu merindukan keluarganya, rumahnya tempat dia dilahirkan, tumbuh dan besar, dan tempat dia belajar banyak hal.

Akan tetapi, mau tidak mau dia memang harus membiasakan dirinya dengan kehidupan yang baru. Dia harus membentuk kehidupannya yang baru bersama seorang lelaki yang telah menjadi suaminya, menjadi seorang pemimpinnya dan ayah bagi anak-anaknya kelak.

Inilah duniamu yang baru.

Wahai putriku, inilah yang akan engkau hadapi sekarang. Inilah masa depanmu. Inilah keluargamu yang akan menyertai kalian berdua—engkau dan suamimu—dalam membentuk kehidupan barumu.

Adapun ayah dan ibumu, keduanya adalah masa lalumu. Ibu tidak bermaksud memintamu untuk melupakan ayah, ibu, dan saudara-saudaramu, karena mereka sendiri selamanya tidak mungkin melupakanmu, wahai sayangku! Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melupakan buah hati, belahan jiwanya? Akan tetapi, yang ibu minta darimu, cintailah suamimu, hiduplah menyertainya, dan berbahagialah dengan kehidupanmu bersamanya.”

582783_501212293226770_628756026_n

kitab Tuhfatul ‘Arus karya Mahmud Mahdi al-Istambuli (hlm. 85—86)

Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses (Part III)

Langkah-Langkah dalam Menjadi Istri Shalihah dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

  • Mengenal Ajaran Islam

  1. Mengenal Allah dan Tauhid. Dengan mengenal Allah dan Tauhid, kita mampu membedakan mana yang haqq dan yang bathil, amalan apa saja yang dapat mendekatkan kita pada Allah, mentaati perintah dan menjauhi segala larangan-Nya sebab tujuan diciptakan nya jinn dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Mengenal nama dan sifat-sifat Allah secara khusus, bahwa hanya Dia lah yang menghidupkan dan mematikan, memberi rezeki, Raja segala Raja dan lain sebagainya. Mengimani rukun iman dari beriman kepada Allah hingga kepada takdir baik dan buruk. Agar hidup kita senantiasa selalu bertumpu hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Allah berfirman:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu (Adz Dzariyat : 56)

    Al-’Imad Ibnu Katsir mengatakan, “Makna beribadah kepada-Nya yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam. Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri, dan kepatuhan.” Selesai ucapan Ibnu Katsir.

    Beliau (Ibnu Katsir) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. Adz-Dzariyat : 56), “Makna ayat tersebut; sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Allah pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.”

  2. Konsep Ibadah yang Benar. Setelah mengetahui dan mengenal Allah dan Tauhid, kita harus belajar tentang konsep ibadah yang benar, yaitu ikhlas dan ittiba’ (mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), bukan menambah hal-hal baru yang dapat mengakibatkan ibadah kita tertolak.

    مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak berdasarkan urusan kami, maka amalan itu tertolak” (lihat hadits no 5 dalam Al Arba’in An Nawawiyyah).

  3. Konsep Pernikahan dalam Islam. Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (mitsaqon gholidhoo). Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail. Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak “Lembaga Pendidikan Islam”, tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

    Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

  • Banyak Berdoa Kepada Allah

Yang namanya mengarungi bahtera rumah tangga, tentu tak selamanya akan berjalan mulus, ibarat bahtera yang nahkodanya adalah suami dan penumpangnya adalah keluarga, kadangkala harus menemui badai, angin yang kencang atau bahkan menabrak karam.

Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah. Ketika impian tak seindah kenyataan, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.

Kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul, yang mungkin bisa diistilahkan sebagai bumbu rumah tangga, bisa berpangkal dari banyak hal. Mungkin di antaranya sebagai berikut:

  1. Perbedaan karakter dasar.
  2. Perbedaan tingkat intelejensi, kadar intelektualitas dan wawasan berpikir.
  3. Perbedaan usia yang terlalu menyolok.
  4. Perbedaan latar belakang pengalaman, satus sosial dan lingkungan hidup.
  5. Perbedaan pemahaman dan prinsip hidup dan beragama.
  6. Kurangnya pengalaman interaksi sosial.
  7. Kesulitan ekonomi.
  8. Cacat dan kekurangan pisik ataupun mental yang baru diketahui belakangan.

Badai  rumah tangga seringkali tampil dalam wujud percekcokan antara suami istri. Kalau dibilang sebagai bumbu, mungkin lebih layak disebut bumbu yang terlalu pedas. Karena percekcokan antara dua insan yang seharusnya bersatu, yang seharusnya tenggelam dalam suasana tentram, penuh dengan kasih sayang, jelas berpengaruh amat besar terhadap kebahagiaan masing-masing pihak, bahkan berpengaruh pada penyelesaian tugas masing-masing dalam rumah tangga.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-’Ankabut: 2)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

 “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (Qs. Ali Imran: 142)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?  Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amatlah dekat.” (Qs. Al-Baqarah: 214)

Pertentangan yang kadang terjadi dalam kehidupan suami istri bukan sesuatu yang mesti menimbulkan rasa gentar dan takut. Bahkan jika dalam kehidupan suami istri tidak diwarnai pertentangan dan perselisihan, justru perlu dikaji dan dipelajari. Bagaimanapun juga pertentangan ini merupakan sesuatu yang alami dan pasti terjadi. Sebab kehidupan suami istri terdiri dari dua jenis manusia. Sementara setiap anak keturunan Adam tentu pernah melakukan kesalahan. Sebab kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata.

Boleh jadi suami melakukan kesalahan sehingga dia mengabaikan hak istrinya atau dia melakukan tindakan-tindakan yang tidak diridhai istri. Adakalanya istri juga melakukan kesalahan sehingga dia mengabaikan hak suami atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak diridhai suami. Dari sini kemudian muncul pertentangan yang memanas. Ini merupakan kejadian yang biasa muncul di setiap rumahtangga. Bahkan yang seperti ini juga terjadi dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Seorang istri yang berakal dan pandai harus menyelaraskan aturan pada awal kehidupannya bersama sang suami sehingga masing-masing bisa saling mengenali lebih jauh sehingga apa yang disepakati keduanya bisa dilaksanakan dan apa yang tidak disukai bisa dihindari. Para suami dan istri dari kalangan salaf yang shalih pasti berbuat seperti itu pada awal kehidupan rumah tangga mereka, sehingga kita jarang mendengar kisah tentang perselisihan di antara mereka seperti yang seringkali kita dengar pada masa sekarang.

Wanita yang berakal tentu menghendaki uluran maaf dari suaminya atas kesalahan-kesalahannya. Oleh karena itu dia pun harus sudi memaafkan kesalahan-kesalahan suaminya. Sebab manusia tidak diciptakan dalam keadan terpelihara dari kesalahan. Seperti yang kita ketahui bersama, terlalau banyak mencela bisa melahirkan perselisihan. Kadang-kadang wanita suka mencela suaminya karena suatu perkara yang dalam pandangannya merupakan perkara besar. Boleh jadi celaannya termasuk celaan yang keras, sehingga justru menyeretnya kepada kesalahan yang jauh lebih besar dari hanya sekedar celaan terhadap suami. Akhirnya dari sini muncul suatu masalah yang besar, karena suami merasa tidak lagi membutuhkan dirinya, hanya karena berangkat dari perkara yang sebenarnya tidak seberapa berarti. Tentunya seorang suami mempunyai sisi-sisi yang terpuji dan juga mempunyai beberapa keburukan. Orang yang berhati-hati masih bisa tergelincir dan orang pandai pun masih mempunyai celah.

Maka dari itu seorang istri tidak boleh marah jika lidah suaminya terpeleset tatkala marah. Tetapi dia harus lapang dada dan tenggang rasa, menghadapi kesalahan dengan kebaikan. Jika istri bisa bersikap seperti ini, justru suaminya bisa menyadari sendiri kesalahannya dan mengetahui bahwa ternyata adalah wanita yang pandai dan lapang dada. Dengan begitu cinta suami kepada dirinya semakin bertambah dan ada saling pengertian di antara mereka.

Basyar bin Burd berkata di dalam syairnya tentang pergaulan,

Jika segala perkara engkau cela
tiada teman yang tiada engkau cela
hiduplah sendirian atau jalin hubungan dengan saudara
dia bisa berbuat dosa dan bisa juga menjauhinya
jika engkau tiada pernah meminum yang ternoda debu
engkau bisa kehausan saat oranglain terbiasa minuman itu
siapa yang engkau ridhai semua perangainya
dia terlalu mulia untuk kau cari celanya.

Demi terciptanya kesejahteraan untuk selama-lamanya, seorang istri harus bisa mengakui kelebihan suami, tidak mengingkari kebaikan-kebaikan yang diberikan kepadanya, sehingga dia tidak termasuk golongan wanita yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka, seraya bersabda:

((…ورأيت النار فلم أر منظرا كاليوم قط ورأيت أكثر أهلها النساء قالوا: بم يا رسول الله ؟ قال بكفرهن قيل أيكفرن بالله ؟ قال: يكفرن العشير ويكفرن الإحسان لو أحسنت إلى إحداهن الدهر كله ثم رأت منك ما تكره قالت ما رأيت منك خيرا قط )) رواه البخاري.

 “ … Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya :“Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab :“Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari, no. 1053, dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Demi terciptanya kesejahteraan untuk selama-lamanya, maka seorang istri harus selalu berdamai dengan suaminya dan membuatnya ridha, agar dia termasuk para wanita yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy)

Demi terciptanya kesejahteraan yang abadi, seorang istri harus menghindari perselisihan dengan suaminya tanpa ada campur tangan dari keluarga atau rekannya. Sebab tidak jarang permasalahannya justru semakin meruncing karena banyak orang yang terlibat di dalamnya. Seorang laki-laki tentu mempunyai martabat dan kehormatan, sehingga dia tidak rela jika ada teman atau keluarga mertuanya mengetahui perselisihan yang muncul antara dirinya dan istrinya. Karena bisa-bisa perselisihan itu justru semakin meruncing karena keterlibatan mereka, atau menambah keretakan hubungan antara dirinya dan keluarga istrinya, atau antara keluarganya dan keluarga istrinya.

Demi terciptanya kesejahteraan yang abadi, seorang istri harus mencerminkan kecintaan kepada suami dengan kata-kata yang baik dan lembut, agar dia memperoleh kedudukan di dalam surga dan termasuk para wanita yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

Maukah aku kabarkan kalian tentang wanita ahli surga?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Wanita yang wadud (pecinta kepada suaminya), wanita yang banyak melahirkan anak, (yang suka kembali kepada suaminya) yang jika dia menzalimi atau dizalimi, maka dia berkata: ‘Diriku ada dalam genggamanmu, aku tidak merasakan tidur hingga engkau ridha (kepadaku)’.” (HR. Ath-Thabarani, 19/140, dihasankan Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’, no. 2604)

Demi terciptanya kesejahteraan abadi, masing-masing pihak harus mau mengalah melepaskan sebagian keinginannya terutama istri. Sebab kaum laki-laki lebih cenderung merasa ketepatan pendapatnya dan harus bisa memberi kepuasan kepada istrinya. Seorang istri yang berakal dan pandai harus mengalah dalam mempertahankan pendapatnya, sekalipun pendapatnya itu benar dan sulit dibantah. Jika suami sudah merasa tenang dan ada kesempatan yang tepat tatkala mereka sedang bercengkrama umpamanya, dia bisa berusaha menjelaskan pendapatnya. Pada saat seperti itu boleh jadi suami akan menerima pendapatnya dan ridha, sehingga segala urusan bisa berjalan mulus tanpa adanya perselisihan dan rintangna. Sebab keburukan tidak bisa dipadamkan dengan kejahatan, seperti api yang tidak bisa dipadamkan kecuali dengan menggunakan air.

Seorang istri muslimah harus lemah lembut dalam segala urusan, santun dan sabar, agar dirinya bisa menjadi harta simpanan bagi suami, sehingga suami merasa bahagia jika melihatnya, merasa tenang tatkala meninggalkannya, bersyukur kepada Allah atas anugerah ini, anugerah yang mampu menciptakan kebahagiaan di dalam rumah, sehingga bisa membantunya dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.

Inilah uraian mengenai istri muslimah seperti yang dicanangkan Islam dengan syariat-syariatnya yang lurus dan adil, agar dia menjadi sendi rumah tangga.

Setiap wanita muslimah yang menghendaki kehidupan dunia dan akhirat, harus berpegang kepada manhaj yang dicanangkan Islam, melaksanakan kewajiban-kewajibannya, meletakkan tangannya di atas tangan suami, agar mereka berdua bisa bahu-membahu dalam menegakkan bangunan rumah tangga yang harmonis, yang terdiri dari pasangan suami istri yang shalih dan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan rumah tangga Islami, tegak berdiri di atas pilar-pilar cinta, saling memahami dan mempercayai, menghirup udara yang bersih di rumah itu, jauh dari penyakit dan problem, yang diisi dengan ibadah dan dzikir.

Dengan cara ini berarti dia telah memberikan andil dalam membangun umat Islam, dengan menghadirkan generasi yang ideal, tanpa ada benang yang kusut, mampu memanggul tanggung jawab dan mengibarkan bendera Islam.

  • Sabar

Dalam menjalani kehidupan, diperlukan kesabaran. Dan al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,

 “Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 279)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya…” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 105-106)

فالصبر : حبس النفس عن الجزع والتسخط وحبس اللسان عن الشكوى وحبس الجوارح عن التشويش  وهو ثلاثة أنواع : صبر على طاعة الله وصبر عن معصية الله وصبر على امتحان الله

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, ” Sabar adalah menahan jiwa dari berkeluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh, serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (yang tidak lurus). Sabar ada 3 jenis, sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari melakukan maksiat, dan sabar tehadap ujian Allah.”(Madarijussalikin)

  • Semangat dan Usaha yang Keras

  • Tolong Menolong dalam Taat dan Takwa

رَحِمَ اللهُ رَجُـلاً، قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ اِمْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِيْ وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ اِمْرَأَةً، قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ.

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan isterinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila si suami enggan untuk bangun ia pun memercikkan air ke wajahnya.” (Diriwayatkan Ahmad dan Abu Daud)

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah [5]: 2)

Pada masalah amalan kebaikan bentuk kerjasamanya berupa membantu pasangan anda untuk bisa melakukannya dan anda mudahkan urusannya, terlepas apakah urusan tersebut berkaitan dengan diri anda atau orang lain. Adapun dalam masalah keburukan bentuk kerjasamanya berupa anda memperingatkannya dan mencegahnya semampu anda diiringi dengan mengarahkannya agar meninggalkan keburukan tersebut. Begitulah, sehingga pasutri benar-benar bersatu padu secara harmonis dalam ta’awun yang diridhoi Dzat Yang Maha Tinggi.

Contoh saling tolong menolong antara suami istri dalam kebaikan
– Suami membangunkan istri shalat shubuh atau sebaliknya.
– Istri membenarkan bacaan Al Quran kepada suaminya atau sebaliknya.
– Suami menolong istrinya menyambung hubungan kekerabatan dengan ibunya, saudara-saudarinya atau sebaliknya.
– Istri mengingatkan suami untuk shalat berjamaah.
– Suami menjaga anak-anak agar istrinya tepat waktu shalat.
– Istri mendorong suami menuntut ilmu, ikut kajian agama Islam.
– Suami melarang istri untuk melakukan maksiat dan dosa atau sebaliknya.
– Istri menyetujui suami untuk berhenti kerja pada pekerjaan yang riba’ atau penuh penipuan, penuh kecurangan dll.
– Suami menyetujui istri untuk memakai pakaian yang syar’ie yang menutup aurat.

Jadikan nikah sebagai langkah baru untuk menguatkan dan meningkatkan ibadah, karena setelah menikah berarti seseorang punya teman setia yang bisa diajak untuk tolong menolong dalam kebaikan, peningkatan ibadah, saling mengingatkan, memberi nasehat dan yang lainnya dari amalan kebaikan.
Bisa jadi sebelum menikah seseorang sangat susah bangun malam tetapi setelah menikah dia rajin shalat malam karena dibangunkan oleh istrinya atau suaminya.

*Selesai*

549793_325228870931770_1183349928_n

539497_253612234760101_61705977_n62043_265026726951985_1660919981_n

 

538499_256814191106572_581733495_n

375823_253607554760569_932787198_n

156503_261919200596071_1744684357_n560353_268451556609502_38826350_n

______

Tambahan artikel dari:

http://muslim.or.id/aqidah/menguak-hakikat-ibadah.html

http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalam-islam/

http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun-bukan-malaikat.html

http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/indahnya-sabar.html

http://alghoyami.wordpress.com/2011/01/29/harmoni-langkah-pasutri/

http://www.dakwahsunnah.com/artikel/keluarga-muslim/121-kunci-sukses-berumahtangga-bag-3

Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses (Part II)

بِسْمِ اللَهِ الرَحْمَنِ الرَّحِيمِ

Wahai suami, bila engkau menemukan mutiara sebesar kelereng di dasar lautan, apa yang akan engkau lakukan? Akankah engkau pamerkan pada setiap orang di luar rumahmu? Membiarkannya begitu saja seakan tiada harganya? Tentu engkau akan menempatkan mutiara tersebut pada tempat yang paling aman di sisi rumahmu, bukan? Tak sembarang orang bisa melihat dan memegangnya saking bernilainya mutiara tersebut. Bahkan bila perlu akan membuat brankas khusus.

Maka bagaimana lagi dengan istri shalihah yang ada di sisimu, yang keindahannya melebihi perhiasan apapun di dunia ini?

Read more…

Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses (Part I)

بِسْمِ اللَهِ الرَحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kemarin baru saja saya mengikuti dauroh Muslimah yang diselenggarakan oleh Blackberry Group “Al-Ilmu” di Balai Komando, Cijantung bersama ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Singkatnya, saya ingin berbagi ilmu yang saya dapat dari catatan yang lumayan berantakan. Bila ada yang kurang atau salah mohon dikoreksi lagi.

Read more…

Hak Pendidikan Istri

Mengajarkan dan Mendidik Istri

Suami wajib mengajari istri asas utama dalam agama dan tata cara beribadah kepada Allah. Allah berfirman:

يأيها الذين ۶امنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا قودها الناس والحجارة عليها ملءكة غلاظ شدادلا يعصون الله مآ أمرهم ويفعلون مايؤمرون

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu: penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Read more…

Agama adalah Nasehat

Al Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said Ibnu Hazm rahimahullah berkata:”Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasihat, baik yang diberi nasihat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung.
Apabila engkau memberi nasihat, maka nasihatilah secara rahasia, jangan di hadapan orang lain,dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung,kecuali apabila orang yang dinasihati tidak memahami isyaratmu, maka harus secara terus terang. Jika engkau melampaui adab-adab tadi, maka engkau orang yang zalim, bukan pemberi nasihat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan, bukan pemberi amanat
dan pelaksana hak ukhuwah. Ini bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan, melainkan hukum rimba, seperti seorang penguasa dengan rakyatnya, dan tuan dengan hamba sahayanya.”

Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati

بسم الله الرحمن الرحيم

Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Qs. al-Kahfi: 46).

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (Qs. at-Taghaabun: 14).

Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shalih dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala[1].

Ketika menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”[2].

Kewajiban mendidik anak

Agama Islam sangat menekankan kewajiban mendidik anak dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6).

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya) ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.”[3]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka, seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka), kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya.”[4]

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiallahu ‘anhu masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah r dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[5] Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke masjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut.[6]

Metode pendidikan anak yang benar

Agama Islam yang sempurna telah mengajarkan adab-adab yang mulia untuk tujuan penjagaan anak dari upaya setan yang ingin memalingkannya dari jalan yang lurus sejak dia dilahirkan ke dunia ini.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam).“[7]

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.”[8]

Perhatikanlah hadits yang agung ini, bagaimana setan berupaya keras untuk memalingkan manusia dari jalan Allah sejak mereka dilahirkan ke dunia, padahal bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah mengenal semua godaan tersebut?[9]

Maka, di sini terlihat jelas fungsi utama syariat Islam dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga anak yang baru lahir dari godaan setan, melalui adab-adab yang diajarkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhubungan dengan kelahiran seorang anak.[10]

Sebagai contoh misalnya, anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seorang suami yang akan mengumpuli istrinya, untuk membaca doa:

بسم الله اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki[11] yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang suami yang ingin mengumpuli istrinya membaca doa tersebut, kemudian Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya“[12].

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dalam pendidikan anak, yang ini berarti bahwa hanya dengan menerapkan syariat Islamlah pendidikan dan pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah, serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4)[13].

Pembinaan rohani dan jasmani

Cinta yang sejati kepada anak tidaklah diwujudkan hanya dengan mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi, yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada mereka. Allah berfirman,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.’” (Qs. al-Baqarah: 133).

Renungkanlah teladan agung dari Nabi Allah yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasihat terakhir kepada anak-anaknya untuk berpegang teguh dengan agama Allah[14], yang landasannya adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-semata (tauhid) dan menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan-Nya dengan makhluk). Di mana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka utamakan adalah kebutuhan duniawi semata-mata; apa yang kamu makan sepeninggalku nanti? Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu? Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?

Dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Qs. Luqmaan: 13).

Lihatlah bagaimana hamba Allah yang shalih ini memberikan nasihat kepada buah hati yang paling dicintai dan disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya untuk buah hatinya ini adalah perintah untuk menyembah (mentauhidkan) Allah semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik.[15]

Manfaat dan pentingnya pendidikan anak

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya– berkata, “Salah seorang ulama berkata, ‘Sesugguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat (nanti) akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian pula) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya. Maka, sebagaimana Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (Qs. al-’Ankabuut: 8).

(Demikian juga) Allah berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6).

…Maka, barangsiapa yang tidak mendidik anaknya (dengan pendidikan) yang bermanfaat baginya dan membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar terhadap anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbulnya (justru) karena (kesalahan) orang tua sendiri, (dengan) tidak memberikan (pengarahan terhadap) mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran (dalam) agama. Sehingga karena mereka tidak memperhatikan (pendidikan) anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan (akhirnya) merekapun tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia. Sebagaimana (yang terjadi) ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka (kepadanya), maka anak itu menjawab, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidikku) sewaktu aku kecil, maka akupun mendurhakaimu setelah engkau tua, karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka akupun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua.’”[16]

Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mendidik anak,

“إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول: أنى هذا ؟ فيقال: باستغفار ولدك لك”
“Sungguh, seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini?’ Maka, dikatakan padanya, ‘(Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.’“[17]

Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu, bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya.[18]

Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jika seorang manusia mati, maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shalih yang selalu mendoakannya.”[19]

Hadits ini menunjukkan bahwa semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shalih pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya[20]. Adapun penyebutan “doa” dalam hadits tidaklah menunjukkan pembatasan bahwa hanya doa yang akan sampai kepada orangtuanya[21], tapi tujuannya adalah untuk memotivasi anak yang shalih agar selalu mendoakan orang tuanya[22].

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya– berkata, “(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shalih, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Qs. an-Najm: 39).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, sebaik-baik (rezeki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya.”[23]

Kandungan ayat dan hadits di atas juga disebutkan dalam hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya.…”[24]

Penutup

Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 20 Jumadal akhir 1430 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A
_______________________________

[1] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/482).
[2] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 637).
[3] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[4] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).
[5] HSR. al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).
[6] Fathul Baari (3/355).
[7] HSR. Muslim (no. 2865).
[8] HSR. Muslim (no. 2367).
[9] Lihat kitab “Ahkaamul Mauluud Fis Sunnatil Muthahharah” (hal. 23).
[10] Ibid (hal. 24).
[11] Termasuk anak dan yang lainnya, lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/306).
[12] HSR. al-Bukhari (no. 6025) dan Muslim (no. 1434).
[13] Kutubu Wa Rasaa-ilu Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimiin (4/14).
[14] Lihat keterangan Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (6/414).
[15] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (3/586).
[16] Kitab “Tuhfatul Mauduud Biahkaamil Mauluud” (hal. 229).
[17] HR Ibnu Majah (no. 3660), Ahmad (2/509) dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Buushiri dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul Ahaaditsish Shahiihah” (no. 1598). Ketika mengomentari hadits ini al-Munawi dalam “Faidhul Qadiir” (2/339) berkata, “Seandainya tidak ada keutamaan menikah, kecuali hadits ini saja maka cukuplah (menunjukkan besarnya keutamaannya)”.
[18] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/339).
[19] HSR. Muslim (no. 1631).
[20] Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang akan kami sebutkan nanti.
[21] Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “doa anak yang shalih”, tapi yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “… anak shaleh yang selalu mendoakannya“, artinya: semua amal kebaikan anak yang shalih pahalanya akan sampai kepada orang tuanya.
[22] Lihat kitab “Ahakaamul Janaaiz” (hal. 223).
[23] HR Abu Dawud (no. 3528), an-Nasa’i (no. 4451), at-Tirmidzi (2/287) dan Ibnu Majah (no. 2137), dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.
[24] Kitab “Ahakaamul Janaaiz” (hal. 216-217).

Sumber: Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati

Post Navigation

%d bloggers like this: