Catatan Kajian Ilmiah

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar’i), maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Muslim)

Archive for the category “Fiqih”

Agar Seorang Pengusaha Tidak Lalai

بسم الله الرحمن الرحيم

     Penguasaha dan kelalaian, apa hubungannya? Bukankah setiap aktivitas dalam hidup manusia berpotensi untuk melalaikan mereka dari mengingat Allah ? Lantas mengapa sifat lalai seolah-olah diidentikkan dengan dunia uasaha dan bisnis? Bukankah dokter, pegawai, buruh bahkan pengangguranpun bisa lalai?

Jawabannya: memang benar bahwa semua aktivitas manusia berpotensi untuk melalaikan mereka dari mengingat Allah , akan tetapi, tahukah anda bahwa sebagian dari para ulama menyifati dunia bisnis dan jual-beli sebagai urusan dunia yang paling besar pengaruh buruknya dalam menyibukkan dan melalaikan manusia dari mengingat Allah [1]?

Inilah yang terungkap dalam makna firman Allah :

{رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ}

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS an-Nuur:37).

Imam asy-Syaukani berkata: “(Dalam ayat ini) Allah menyebutkan perdagangan secara khusus karena inilah (aktivitas) yang paling besar (potensinya) dalam melalaikan manusia dari mengingat Allah[2].

Hal ini dikarenakan aktivitas usaha perdagangan berhubungan dengan harta benda dan keuntungan duniawi, yang tentu saja ini merupakan ancaman fitnah (kerusakan) besar bagi seorang hamba yang tidak memiliki benteng iman yang kokoh untuk menghadapi dan menangkal fitnah tersebut.

Rasulullah  bersabda:

«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ»

“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta”.

Maksudnya: menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah  dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya:

{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ}

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS at-Tagaabun:15)[3].

Oleh karena itu, pasar dan tempat berjual-beli yang merupakan tempat kesibukan mengurus harta perniagaan adalah tempat berkumpulnya setan dan bala tentaranya, yang selalu berusaha untuk membuat manusia lalai dan lupa mengingat Allah [4].

Inilah makna sabda Rasulullah : “Tempat yang paling dicintai Allah adalah mesjid dan yang paling dibenci-Nya adalah pasar”[5].

Berikut ini, beberapa petunjuk dalam Islam bagi seorang pedagang dan pengusaha untuk memudahkan dirinya terhindar dari kelalaian dan tipu daya setan, dengan taufik dari Allah :

1- Selalu berdoa kepada Allah  memohon keteguhan iman dan penjagaan dari segala bentuk fitnah yang merusak agama.

Di antara doa yang sering diucapkan oleh Rasulullah  adalah: “Ya (Allah) Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”[6].

2- Berusaha menjaga batasan-batasan syariat Allah  dalam semua aktivitas yang dilakukan,baik dalam urusan agama, jual-beli, pergaulan maupun urusan dunia lainnya.

Rasulullah  bersabda: “Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu (dari segala keburukan), jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu)”[7].

3- Berzikir kepada Allah  dengan hati dan lisan sebelum masuk pasar dan tempat berjual-beli lainnya, serta selalu mengingat-Nya, agar terhindar dari kelalaian.

Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang masuk pasar kemudian membaca (zikir): Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang maha hidup dan tidak pernah mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu”, maka allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat – dalam riwayat lain: dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga – ”[8].

Imam ath-Thiibi berkata: “Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah  berfirman tentang keutamaan mereka:

{رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur:37-38)[9].

4- Bersegera melaksanakan shalat lima waktu ketika adzan dikumandangkan dan meninggalkan segala kesibukan jual-beli dan urusan dunia lainnya.

Imam al-Qurthubi berkata: “Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan/dilalaikan dengan perniagaan (usaha)nya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya, maka ketika tiba waktu shalat fardhu hendaknya dia (segera) meninggalkan perniagaannya (untuk menunaikan shalat), agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah ) dalam ayat tersebut (di atas)”[10].

5- Berusaha meluangkan waktu untuk melaksanakan shalat dhuha, terutama di saat-saat manusia sedang lalai dan disibukkan dengan urusan jual beli. Inilah yang disebut sebagai shalat al-Awwaabiin, yaitu orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah  dengan selalu mentaati-Nya dan bertaubat dari perbuatan dosa[11].

Rasulullah  bersabda: “Shalat para al-Awwaabiin (di waktu dhuha) adalah ketika anak-anak onta kepanasan (karena cahaya matahari)”[12].

Shalat pada waktu ini dinamakan shalatnya para al-Awwaabiin karena pada waktu ini biasanya manusia sedang disibukkan dengan urusan dan perniagaan dunia, akan tetapi hamba-hamba Allah  yang shaleh dan selalu kembali kepada-Nya memanfaatkan waktu ini untuk beribadah dan berzikir kepada Allah [13].

Demikianlah dan semoga bermanfaat bagi para pembaca dengan izin Allah , amiin.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 15 Rabi’uts tsani 1434

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 


[1] Lihat kitab tafsir “fathul Qadiir” (4/52).

[2] Ibid.

[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/507).

[4] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/272) dan “Faidhul Qadiir” (1/170).

[5] HSR Muslim (no. 671).

[6] HR at-Tirmidzi (4/448), Ibnu Majah (no. 3834) dan Ahmad (3/112), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[7] HR at-Tirmidzi (4/667) dan Ahmad (1/293), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[8] HR at-Tirmidzi (no. 3428 dan 3429), Ibnu Majah (no. 2235), ad-Daarimi (no. 2692) dan al-Hakim (no. 1974) dari dua jalur yang saling menguatkan. Dinyatakan hasan oleh imam al-Mundziri (dinukil oleh al-mubarakfuri dalam kitab “’Aunul Ma’bud” 9/273) dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shahihul jaami’” (no. 6231).

[9] Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/273).

[10] Kitab “Tafsir al-Qurthubi” (5/156).

[11] Lihat “Syarhu shahih Muslim” (6/30) dan “Bahjatun naazhiriin” (2/310).

[12] HSR Muslim (no. 748) dan Ibnu Hibban (no. 2539) dari Zaid bin Arqam t.

[13] Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam” (2/445).

 

sumber: http://manisnyaiman.com/agar-seorang-pengusaha-tidak-lalai/

Syaikh Utsaimin Ditanya tentang Hukum Merayakan Hari Ibu

Jawaban:

Semua perayaan yang tidakk diajarkan oleh syariat agama adalah perayaan-perayaan bid’ah, tidak dikenal pada masa as-Salafush Shalih, dan sangat mungkin awalnya berasal dari selain kaum Muslimin. Maka, selain hal itu merupakan perbuatan bid’ah, juga berarti menyerupai musuh-musuh Allah. Perayaan-perayaan Syar’i itu telah diketahui oleh semua pemeluk Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha serta hari raya Pekanan, yaitu “hari Jum’at”.
Dalam Islam, tidak ada perayaan-perayaan yang lain selain yang tiga ini, maka semua perayaan baru selain yang tiga itu adalah tertolak kepada yang mengadakannya dan hukumnya batil dalam syariat Allah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (bagian) darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)

Maksudnya adalah ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lain disebutkan,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka hal itu tertolak.” (HR. Muslim)

Karena itu, maka tidak boleh merayakan hari raya yang disebutkan dalam petanyaan tadi yang dikenal dengan istilah “Hari Ibu”. Tidak boleh mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaan, seperti: Menampakkan kegembiraan dan keceriaan, mempersembahkan hadiah, dan lain sebagainya.

Seharusnya seorang Muslim merasa Mulia dan bangga dengan agamanya, dan hendaknya cukup melakukan apa yang telah ditetapkan Allah bagi para hambaNya, tidak menambah ataupun menguranginya. Lain dari itu, hendaknya seorang Muslim tidak menjadi pengekor yang mengikuti setiap propaganda, bahkan sebaliknya, ia harus membentuk kepribadiannya sesuai dengan syariat Allah sehingga menjadi orang yang ditiru, bukan yang meniru, dan menjadi teladan bukan pecundang, karena syariat Allah, alhamdulillah, adalah sempurnya dari berbagai segi, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firmanNya

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agamamu.” (Qs. Al-Maidah: 3)

Ibu, lebih berhak untuk dimuliakan daripada hanya dikhususkan satu hari sajadalam setahun, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga, diperhatikan dan ditaati dalam hal-hal yang bukan kemaksiatan terhadap Allah di setiap waktu dan tempat.
(Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, no. 353)

images

Disalin dari Ensiklopedia Bid’ah terbitan Daarul Haq

Sumber: artikelassunnah.blogspot.com

Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses (Part I)

بِسْمِ اللَهِ الرَحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kemarin baru saja saya mengikuti dauroh Muslimah yang diselenggarakan oleh Blackberry Group “Al-Ilmu” di Balai Komando, Cijantung bersama ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Singkatnya, saya ingin berbagi ilmu yang saya dapat dari catatan yang lumayan berantakan. Bila ada yang kurang atau salah mohon dikoreksi lagi.

Read more…

Hak Pendidikan Istri

Mengajarkan dan Mendidik Istri

Suami wajib mengajari istri asas utama dalam agama dan tata cara beribadah kepada Allah. Allah berfirman:

يأيها الذين ۶امنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا قودها الناس والحجارة عليها ملءكة غلاظ شدادلا يعصون الله مآ أمرهم ويفعلون مايؤمرون

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu: penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Read more…

Kaidah-Kaidah dan Permasalahan Tentang Nifas

Nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim (setelah melahirkan, pen.)

Kaidah dalam nifas:

  • Keluarnya darah yang disertai rasa sakit karena melahirkan (mulas) sehari atau dua hari sebelum melahirkan, maka itu adalah nifas. Seorang wanita pada kondisi ini harus meninggalkan shalat dan puasa.

  • Keluarnya cairan putih baik dengan adanya rasa mulas atau tidak, maka itu bukanlah nifas, namun hendaknya ia berwudhu, karena cairan tersebut termasuk dalam hukum shufrah dan kudrah. Jika ia tidak mampu berwudhu dan bertayamum, maka hendaklah ia mendirikan shalat sesuai dengan kemampuannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

    صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.

    “Shalatlah kamu dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring.” (HR. al-Bukhari)

  • Jika janin seorang ibu mengalami keguguran:
    a. Jika janin itu telah berbentuk (berumur lebih dari 81 hari), maka ia adalah nifas.
    b. Jika janin belum berbentuk (kurang dari 81 hari), maka itu merupakan darah yang rusak (kotor) dan masuk dalam hukum istihadhah.
    c. Jika janin seorang ibu mengalami keguguran dan masa kehamilannya telah mencapai (81 hari), akan tetapi janin itu telah mati ketika dalam perut, misalnya sejak dua minggu sebelumnya, maka ia adalah darah rusak (kotor) dan masuk dalam hukum istihadhah.

    Yang menjadi patokan adalah terbentuknya janin. Dan maksudnya adalah jika telah kelihatan tangan atau bentuk kepala atau tangan pada darah yang beku yang keluar dari rahim seorang wanita.

Peringatan:

Sebagian wanita meninggalkan shalat dan puasa hanya dengan sebab keguguran, padahal itu terjadi pada bulan pertama atau kedua atau pada awal bulan ketiga. Ini tidak dibolehkan, dan perincian di atas telah menjelaskan masalah itu.

Kapankah Seorang Wanita yang Nifas itu Suci?

  • Jika ia telah melewati masa lamanya nifas, yaitu 40 hari. Lebih dari itu adalah istihadhah.

  • Jikalau ia sudah suci sebelum empat puluh hari, maka hendaknya dia mandi, mendirikan shalat dan berpuasa.

  • Jika ia suci sebelum empat puluh hari, lalu ia mandi, shalat dan puasa, kemudian keluar haidh lagi dan belum genap empat puluh hari, maka darah tersebut adalah nifas, sedangkan puasa yang ia lakukan sebelumnya tetap sah.

  • Jika ia suci sebelum empat puluh hari, lalu mandi dan mendirikan shalat, kemudian keluar kudrah dan shufrah dan belum genap empat puluh hari, maka masuk dalam hukum istihadhah.

  • Jika ia melihat cairan shufrah dan kudrah yang bersambung dengan darah nifas, dan belum genap empat puluh hari, maka ia adalah nifas.

  • Jika setelah empat puluh hari darah keluar kembali secara kebetulan dan bertepatan dengan masa haidh, sedangkan warna dan aroma darahnya sama seperti darah haidh, maka dihukumi haidh. Biasanya orang awam menyebutnya sebagai saudaranya nifas.

Kapankah Waktu Suci Seorang Wanita itu Dikatakan Sudah Empat Puluh Hari?

Yaitu dengan menyempurnakan empat puluh hari siang dan malamnya, misalnya seorang wanita melahirkan pada jam 12 siang waktu Dhuhur, maka setelah empat puluh harinya pada jam 12 siang waktu Dzuhur, berarti ia telah menyempurnakan empat puluh hari dan ia dalam keadaan suci.

Sumber: Kaidah-Kaidah dan Permasalahan Tentang Nifas

Buku:
“Wanita dan Thaharah Panduan Lengkap Seputar Haidh, Nifas, Istihadhah dan lain-lain”

Oleh:
Syaikhah Binti Muhammad al-Qasim

Kaidah-kaidah dan Permasalahan Tentang Istihadhah

Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaannya atau darah yang datang secara tidak disangka-sangka.

Tanya: Apa yang seharusnya dilakukan oleh wanita yang beristihadhah?

Read more…

Kaidah-kaidah dan Permasalahan Tentang Shufrah, Kudrah dan al-Qushatul Baidha’

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Shufrah adalah sesuatu yang seperti nanah dan didominasi warna kuning.

Kudrah adalah seperti warna air yang kotor, dan tidak menyerupai salah satu dari warna-warna darah, atau seperti air yang bercampur dengan warna merah. Ia keluar semisal warna coklat pada umumnya.

Pertanyaan: Dengan apa seorang wanita mengetahui masa sucinya?

1. Dengan al-qushshahtul baidha’ (lendir putih), yaitu cairan berwarna putih yang keluar karena tekanan rahim pada saat darah haidh berhenti.

2. Atau dengan jafaf (keringnya kemaluan), yaitu dengan memasukkan sapu tangan (tissue), maka ketika dikeluarkan, sapu tangan (tissue) tersebut tetap dalam keadaan kering.

Pengertian jafaf di sini adalah tidak ada lagi darah sedikit pun. Juga tidak ada shufrah dan kudrah, sebab kemaluan wanita tidak pernah terlepas dari kondisi basah secara umum.

Kaidah-kaidah dan Permasalahan shufrah, Kudrah dan al-Qushshatul Baidha’

  • shufrah dan kudrah yang keluar pada masa haidh, maka ia termasuk haidh.

    Misalnya: Seorang wanita biasa haidh selama lima hari, lalu pada satu bulan tertentu atau seterusnya ia mengeluarkan darah selama dua hari, lalu pada hari ke tiga keluar shufrah dan kudrah, kemudian dua hari terakhir keluar darah, maka berarti masa lima hari keseluruhanya adalah masa haidh.

  • shufrah dan kudrah jika bersambung dengan hari-hari haidh sebelum masa suci, maka ia termasuk haidh.

    Misalnya: Seorang wanita mengalami haidh selama lima hari, lalu setelah itu keluar shufrah dan kudrah selama dua hari, lalu keluar lendir putih, maka itu berarti masa tujuh hari keseluruhannya adalah masa haidh.

  • shufrah dan kudrah tidak dianggap apa-apa setelah masa suci.

    Misalnya: Seorang wanita selesai dari haidh, lalu ia melihat tanda suci, dan setelah itu ia mendapati shufrah dan kudrah, maka ini bukanlah haidh. Namun shufrah dan kudrah ketika itu dianggap sebagai istihadhah. Hendaknya ia berwudhu di setiap waktu shalat dan membersihkan pakaian yang terkena cairan tersebut.

    Kaidah: shufrah dan kudrah apabila terjadi pada masa haidh atau bersambung dengannya sebelum datangnya masa suci, maka ia dianggap sebagai haidh. Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Kami tidak menganggap shufrah dan kudrah sebagai haidh setelah masa suci.” ( Riwayat al-Bukhari dan Abu Dawud, dan lafazh ini adalah miliknya dengan tambahan ini)

  • shufrah dan kudrah yang terjadi sebelum keluarnya darah atau terjadi pada masa haidh dengan disertai rasa sakit ketika haidh, atau ia datang sebelum keluarnya darah secara terus-menerus, maka dianggap sebagai haidh, dengan rincian sebagai berikut:

    a). Jika shufrah dan kudrah keluarnya tersendat-sendat sebelum datangnya haidh dengan disertai rasa sakit ketika haidh, maka ia dianggap haidh.

    Misalnya: Jika seorang wanita melihat shufrah dan kudrah dalam jangka waktu satu hari atau dua hari atau pun tiga hari dengan disertai rasa sakit sebagaimana rasa sakit waktu haidh, lalu datang kepadanya haidh, maka tiga hari yang pertama sebelum haidh juga dianggap haidh.

    b). Jika shufrah dan kudrah keluar secara terputus-putus sebelum masa haidh tanpa disertai rasa sakit waktu haidh, maka dihitung sebagai istihadhah.

    c). Jika shufrah dan kudrah keluar terus-menerus hingga datangnya haidh, maka ia dianggap haidh.

    Misalnya: Seorang wanita melihat shufrah dan kudrah selama tiga hari terus-menerus, lalu pada hari keempat ia mengalami haidh, maka tiga hari sebelumnya adalah haidh juga.

    d). Jika shufrah dan kudrah keluar pada hari pertama haidh dengan disertai rasa sakit waktu haidh, maka dianggap sebagai haidh.

  • Keluarnya garis/benang tipis berwarna hitam pada cairan pada hari-hari pertama haidh dengan disertai rasa sakit, maka dianggap sebagai haidh dengan syarat keluarnya garis-garis/benang-benang tipis pada cairan itu secara terus menerus dengan tidak ada masa kering. Adapun jika garis-garis/benang-benang tipis itu keluar, lalu berhenti, maka ia bukan haidh, sebab haidh itu tidak terjadi kurang dari sehari semalam sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

  • Jika seorang wanita melihat tanda suci berupa al-qushshatul baidha’ (lendir putih), lalu mengalami shufrah dan kudrah, lalu keluar al-qushshatul baidha’, kemudian shufrah dan kudrah, maka al-qush-shatul baidha’ (lendir putih) yang pertama adalah tanda masa suci.

  • Jika warna shufrah dan kudrah yang bersambung dengan darah haidh berubah secara perlahan-lahan dari warna coklat ke warna kuning, dan terjadi terus-menerus, maka hendaknya seorang wanita menunggu sampai ia melihat masa suci [keluarnya al-qushshatul baidha’ (lendir putih) atau jafaf (keringnya kemaluan)].

    Adapun jika meningkat kepada warna kuning akan tetapi berhenti, dan ia tidak melihatnya kecuali hanya sekali saja, misalnya dalam sehari, sedangkan keluarnya lendir putih mengalami keterlambatan, misalnya tiga hari, maka masa suci terjadi ketika awal melihat warna kuning yang berhenti itu.

Memeriksa Masa Suci

Sebagian Salaf mengatakan, “Bukan merupakan keharusan bagi seorang wanita untuk memeriksa masa sucinya di malam hari dan itu tidak aku sukai, sedangkan saat itu manusia tidak memiliki lampu, sebagaimana dikatakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dan selainnya. Akan tetapi yang harus baginya ialah melakukannya pada saat ingin tidur atau melakukan shalat Shubuh dan hendaknya ia melihat pada waktu-waktu shalat. Mencari masa suci ketika malam hari bukan termasuk amalan orang-orang.”

Tata Cara Mandi yang Sempurna dan Disunnahkan Ketika Selesai dari haidh, Nifas dan Junub, dan Juga Ketika Ihram untuk Haji dan Umrah:

  • Hendaknya ia berniat di dalam hatinya.

  • Lalu membaca bismillah, mencuci tangannya tiga kali, dan mencuci kemaluannya.

  • Kemudian berwudhu secara sempurna.

  • Lalu menuangkan air di kepalanya (hingga membasahi pangkal rambut/kulit kepala)

  • Kemudian membasuh bagian tubuh yang kanan, bagian depan dan belakangnya, serta menggosok dengan dua tangannya.

  • Kemudian membasuh bagian tubuh sebelah kiri, bagian depan dan belakang, serta menggosok dengan dua tangannya.

Sedangkan mandi yang dianggap sah adalah mencuci kemaluan, lalu berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke hidung), lalu menyiramkan air ke seluruh tubuh dengan niat bersuci dari haidh, nifas atau janabah.

Peringatan:

  • Inilah tata cara mandi yang sempurna dan tata cara mandi yang dianggap sah, yang memungkinkan seorang wanita bisa mendirikan shalat setelahnya, setelah ia mengalami hadats besar (haidh, nifas atau janabah saja), dan cukup baginya tanpa berwudhu.

  • Jika seorang wanita sedang junub, lalu mengalami haidh, maka hendaklah ia mandi dari janabah untuk meringankan junub, dan setelah itu memungkinkan dia untuk membaca al-Qur’an.

Faidah 1:

Disunnahkan bagi orang yang mandi dari haidh untuk mengusapkan kapas yang dilumuri misik pada tempat keluarnya darah, berdasarkan ucapan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

سَأَلَتْ اِمْرَأَةٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَيْفَ تَغْتَسِلُ مِنْ حَيْضَتِهَا؟ فَذَ كَرَتْ أَنَّهُ عَلَّمَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ ثُمَّ تَأْ خُذُ فِرْصَةً مِن مِسْكٍ فَتَطَهَّرُ بِهَا. قَالَتْ: كَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا؟ قَالَ: تَطَهَّرِي بِهَا سُبْحَانَ اللهِ. فَقُلْتُ: تَتَبَّعِىْ بِهَا أَثَرَ الدَّمِ.

“Salah seorang wanita bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang bagaimana cara mandi dari haidh? Maka dia mengatakan bahwasanya beliau (Nabi) telah mengajarkan kepadanya tata cara mandi, dan memerintahkannya untuk mengambil firshatu misik (sepotong kapas/ kain yang diberi misik) dan membersihkan (bersuci) dengannya. Wanita itu bertanya, “Bagaimanakah aku bersuci dengannya?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “(Bagaimana) engkau bersuci dengannya, subhanallah. Maka aku berkata, “Usapkanlah kapas tersebut ke daerah bekas keluarnya darah.” (HR. Muslim)

Arti Kosa Kata:

Firshatu misik; Yaitu sepotong kapas yang digunakan seorang wanita untuk mengusap darah haidh, artinya ia mengambil potongan kapas yang telah diolesi misik (cair atau padat).

Usapkanlah kapas tersebut ke daerah bekas keluarnya darah; Jumhur Ulama mengatakan, “Yang dimaksud adalah farj (kemaluan)”.

Ia mengambil misik dan mengoleskannya di kapas dan semisalnya, lalu mengoleskannya pada kemaluannya. Jika tidak mendapati misik, maka cukup dengan minyak wangi.

Hikmah dari hal tersebut adalah:
1. Dikatakan bahwa tujuannya adalah supaya aroma darah hilang.
2. Dikatakan juga, karena ia akan mempercepat mendapatkan anak.
3. Dikatakan juga dapat menghentikan keluarnya cairan kotor (cairan keputihan/kekuningan dari vagina).
4. Mempermudah bagi wanita setelah itu untuk mengetahui masa sucinya dengan adanya lendir putih atau jafaf (keringnya kemaluan).

Peringatan:

Sebaiknya wanita melakukan amalan sunnah ini, walaupun ia seorang yang masih dalam masa iddah (masa menunggu) karena kematian suaminya, kecuali bagi wanita yang sedang melakukan ihram untuk melaksanakan ibadah Haji atau Umrah.

Faidah 2:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

)وَالْمِسْكُ أَطْيَبُ الطِّيْبِ)

“Misik adalah minyak wangi yang paling baik. (HR. Muslim dari hadits Abu Sa’id al-Khudri)

Misik merupakan minyak wanginya surga. Dan di antara manfaatnya adalah menjadikan keringat wangi, memperindah anggota badan, mencegah bau yang tidak enak yang keluar dari dalam pencernaan, menguatkan jantung, menyenangkan, memperbaiki pikiran, menghilangkan bisikan jiwa, memberikan manfaat bagi yang terkena sakit kepala, mencerdaskan otak, memberikan manfaat dari seluruh penyakit dingin, menghentikan kerjanya racun dan lain sebagainya. (Faidhul Qadir, oleh Al-Manawi, 1/547 dengan beberapa perubahan)

Tanya: Sebagian wanita mengeluhkan terjadinya rasa jenuh, lalai, keras hati pada saat masa haidh atau nifas dengan sebab mereka tidak mendirikan shalat dan berpuasa pada masa ini, maka bagaimanakah cara penyembuhannya?

Jawab: Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala melarang mereka mendirikan shalat dan berpuasa adalah sebagai rahmat bagi mereka, sebab Dia adalah yang paling Penyayang di antara yang penyayang. Akan tetapi jalan-jalan kebaikan amatlah banyak –alhamdulillah-, maka seorang Muslimah hendaknya menempuh jalan-jalan itu supaya tetap dekat dengan Rabbnya dalam seluruh keadaannya, seperti dengan cara membaca al-Qur’an melalui hafalannya, atau dengan pemisah yang suci misalnya sarung tangan dan selainnya, ber-dzikir dan beristighfar, menjawab mu’adzin, berdoa, berbuat baik kepada kedua orang tua, silaturrahim, membantu kesulitan orang, memberi buka puasa orang yang berpuasa, menjenguk orang sakit, mendengarkan kaset yang bermanfaat, menghadiri majlis-majlis ilmu, dan jika ia hendak melakukan suatu urusan, maka ia boleh membaca doa istikharah dengan tanpa melakukan shalat.

Sumber:

Kaidah-kaidah dan Permasalahan Tentang Shufrah, Kudrah dan al-Qushatul Baidha’

Buku:
“Wanita dan Thaharah Panduan Lengkap Seputar Haidh, Nifas, Istihadhah dan lain-lain”

Oleh:
Syaikhah Binti Muhammad al-Qasim

Kaidah-Kaidah dan Permasalahan tentang Haidh

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Haidh adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita pada waktu-waktu tertentu karena tuntutan qudrat penciptaannya dan tanpa adanya sebab. Ia adalah darah yang bersifat alami, tanpa adanya sebab tertentu, seperti sakit, luka, keguguran atau melahirkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى

Artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, “Haidh itu adalah suatu kotoran”. (Al-Baqarah: 222).

Kaidah-Kaidah dan Permasalahan Tentang Hukum Haidh

  • Kadangkala masa haidh lebih panjang dari waktu biasanya, maka masanya dihitung bertambah dan dianggap sebagai haidh.

Misalnya: Seorang wanita biasa mengalami haidh selama lima hari, lalu suatu ketika masanya bertambah sampai tujuh hari itu, berarti masa haidh nya menjadi tujuh hari.

  • Kadangkala masa haidh lebih pendek dari waktu biasanya, maka masanya dihitung berkurang.

Misalnya: Seorang wanita biasa mengalami haidh selama lima hari, lalu ia mengalami haidh lebih pendek selama empat hari, maka berarti pada saat itu masa haidh nya telah habis.

  • Kadangkala masa haidh lebih panjang dari waktu biasanya dengan sebab adanya penghalang (kontrasepsi).

Misalnya: Seorang wanita yang menggunakan alat pencegah kehamilan (spiral), lalu masa haidh nya menjadi lebih panjang. Anggaplah ia biasa mengalami haidh selama lima hari, dan setelah menggunakan alat tersebut masanya menjadi delapan hari, maka itu artinya masa haidh nya menjadi delapan hari. Dengan demikian masa haidhnya dihitung bertambah dan dikategorikan sebagai haidh. Tentunya ini setelah melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang dokter Muslimah sehingga ia benar-benar mengetahui bahwa spiral tersebut dalam posisi yang tepat, dan bahwasanya darah yang keluar bersumber dari rahim, bukan karena adanya luka, penyakit atau mengalami pendarahan. [1]

  • Kadangkala haidh datang lebih awal.

Misalnya: Seorang wanita biasa mengalami haidh di akhir bulan, lalu suatu saat datang lebih awal, misalnya seminggu atau sepuluh hari sebelumnya, maka ini adalah haidh.

  • Kadangkala haidh mengalami keterlambatan.

Misalnya: Seorang wanita biasa haidh pada pertengahan bulan, lalu ia mengalami keterlambatan sampai akhir bulan, maka ini adalah haidh.

Kaidah: Kapan saja seorang wanita melihat darah, maka itu adalah haidh. Dan seorang wanita dianggap mengalami haidh, jika keluarnya terjadi dalam sehari semalam atau lebih –akan dijelaskan kemudian-, dan kapan pun seorang wanita melihat bersihnya darah, maka ia telah suci, baik masanya bertambah atau berkurang dari biasanya, dan baik waktunya maju atau mundur. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى

Artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, “Haidh itu adalah suatu kotoran”. (Al-Baqarah: 222).

Maka dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan keberadaan kotoran, yaitu darah sebagai haidh.

  • Kadangkala darah mengalir secara terus-menerus pada masa haidh, dan keluarnya pun berkesinambungan. Dan ini yang terjadi pada mayoritas kaum wanita.

Misalnya: Seorang wanita mengalami haidh terus menerus selama lima hari, kemudian suci.

  • Kadangkala darah keluar secara terputus-putus dan berhenti pada waktu biasanya, maka kapanpun ia melihat darah, berarti itu adalah haidh dan kapanpun ia melihatnya bersih dan kering, maka itu adalah suci.

Misalnya: Seorang wanita biasa mengalami haidh selama delapan hari, lalu ia kedatangan haidh pada bulan tertentu selama empat hari, kemudian berhenti dua hari, lalu haidh kembali selama dua hari. Maka hari-hari yang awal (4 hari pertama) adalah haidh, dan yang tengah (2 hari) adalah suci, maka ia wajib berpuasa dan mendirikan shalat. Sedang dua hari terakhir adalah dapat dipastikan sebagai haidh juga, dengan sebab masa haidhnya adalah selama delapan hari, dan pada asalnya seluruh darah yang keluar dari seorang wanita adalah haidh, selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu bukan darah haidh, sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang bersumber dari firman Allah subhanahu wa ta’ala

قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

Artinya, “Katakanlah, “Haidh itu adalah suatu kotoran, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita (janganlah menyetubuhinya) di waktu haidh”. (Al-Baqarah: 222).

  • Pada dasarnya darah dianggap sebagai haidh, apabila masanya selama sehari semalam, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaitkannya dengan kebiasaan wanita, sebagaimana sabda beliau,

تَحَيَّضِيْ فِيْ عِلْمِ اللهِ سِتَّا أَوْ سَبْعًا كَمَا تَحِيْضُ النِّسَاءُ

“Jalanilah masa haidh dalam ilmu Allah selama enam atau tujuh hari sebagaimana wanita mengalami haidh.” (HR. at-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani).

Dan tidak pernah ada haidh yang normal, masanya kurang dari sehari semalam. Atas dasar ini, maka setiap darah yang keluar kurang dari sehari semalam, maka ia tidak dianggap sebagai haidh.

Dan juga berdasarkan kaidah: Jika darah berhenti selama sehari semalam[2] atau lebih ketika dalam masa haidh, maka yang demikian adalah suci. Dan jika berhenti kurang dari sehari semalam[3], maka darah tersebut termasuk dalam hukum haidh.

Misalnya:

a). Jika seorang wanita, masa haidhnya adalah tujuh hari, lalu pada hari kelima darah berhenti dari waktu fajar sampai akhir malam, di mana sekiranya dia mengusap (pada kemaluannya), maka tidak mendapati sesuatu, lalu darah tersebut kembali keluar pada hari yang keenam dan ketujuh, maka hari kelima dihitung suci, sehingga ia wajib mendirikan shalat dan berpuasa. Sebab suci itu terjadi dengan keringnya darah, dan inilah yang umum dan dapat pula terjadi dengan adanya al-qushshatul baidha‘ (lendir putih).

b). Jika kebiasaan haidhnya selama tujuh hari, kemudian pada hari kelima haidh berhenti dari waktu fajar sampai Ashar, maka ini termasuk dalam hukum haidh, karena kurang dari sehari semalam.

  • Kadangkala darah keluar setelah waktu biasanya berlalu, dan 2 hari atau lebih setelah mandi. Maka pada prinsipnya darah yang keluar dari wanita selama sehari semalam atau lebih –sebagaimana dijelaskan sebelumnya-, maka itu adalah haidh, selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa darah tersebut bukan haidh, misalnya karena adanya luka atau pendarahan.

Misalnya: Seorang wanita memiliki masa haidh yang sudah jelas, yaitu empat hari, kemudian ia suci, lalu darah keluar lagi pada hari yang keenam dan ketujuh, maka darah yang ia lihat pada hari keenam dan ketujuh adalah haidh.

Pertanyaan:
Bagaimanakah seorang wanita Muslimah bisa mengetahui bahwa darah yang akan keluar itu kurang dari sehari semalam, sehingga darah tersebut tidak dihitung haidh atau darah tersebut akan keluar terus, sehingga dihitung sebagai haidh?

Jawab:

Pertama; Jika darah tersebut keluar masih pada masa-masa haidhnya atau masih dekat dengannya, maka darah tersebut dihitung sebagai haidh karena hukum asalnya demikian, selama darah itu tidak berhenti atau telah mengering. Demikian pula jika ia mengetahui bahwa ia mengalami hal ini pada setiap masa haidh.

Kedua; Jika darah itu keluar setelah masa suci, dan tidak ada tanda-tanda bahwasanya itu adalah haidh seperti rasa sakit di punggung misalnya, atau warna darah dan aromanya, dan ia juga tidak kental, dan itu terjadi padanya secara umum ketika ia sedang serius atau terjadi keguncangan pada jiwanya, lalu darah itu terhenti, maka itu bukanlah haidh. Jika pada darah itu terdapat salah satu dari tanda-tanda haidh, maka ia dianggap haidh selama tidak kurang dari lamanya masa haidh (sehari semalam).

  • Apabila masa haidh bertambah dari waktu biasanya pada suatu bulan tertentu, maka tambahan hari itu dihitung sebagai haidh.

    Misalnya:

    1. Jika masa haidh seorang wanita adalah lima hari, lalu pada bulan tertentu darah keluar terus-menerus hingga selama sebelas hari, kemudian suci, ini artinya masa haidhnya pada bulan tersebut adalah sebelas hari.
    2. Adapun jika darah keluar terus-menerus pada seorang wanita, maka hendaklah ia menunggu sampai batas maksimal masa haidh, yaitu lima belas hari. Apabila telah mencapai masa waktu ini, maka hendaknya ia mandi dan dengan demikian ia telah suci. Jika darah masih keluar terus-menerus, maka hendaknya ia berwudhu’ setiap akan mendirikan shalat serta mencuci pakaiannya yang terkena bekas darah, dan darah itu adalah termasuk istihadhah. Ini menurut pendapat Jumhur Ulama.
    3. Adapun jika darah keluar terus-menerus hingga bulan berikutnya, maka sesungguhnya wanita tersebut mengalami istihadhah. Dan yang dimaksud wanita yang mengalami istihadhah di sini adalah siapa saja yang mendapati darah sepanjang bulan atau sebagian besarnya dan tidak berhenti, kecuali sehari atau dua hari saja. Maka hukumnya kembali kepada hukum-hukum istihadhah yaitu:

    Kondisi Pertama:

    Seorang wanita memiliki kebiasaan haidh yang jelas sebelum ia mengalami istihadhah, misalnya sebelum mengalami istihadhah ia biasa mengalami haidh selama lima hari atau delapan hari pada awal bulan atau pertengahannya, dan ia mengetahui persis kebiasaan jumlah hari dan waktunya. Maka dalam keadaan ini ia beristirahat selama masa biasa dia haidh, meninggalkan shalat dan puasa dan statusnya sebagai wanita yang sedang mengalami haidh. Jika waktu kebiasaan haidhnya sudah habis, maka hendaknya ia mandi dan melakukan shalat lagi. Darah yang keluar setelahnya dianggap sebagai istihadhah dan hendaknya ia berwudhu setiap akan mendirikan shalat. Apabila ia merasa berat untuk berwudhu setiap kali akan mendirikan shalat, maka boleh baginya berwudhu dan melakukan shalat Zhuhur dan Ashar secara jama’ (digabung). Demikian pula untuk shalat Maghrib dan Isya’.

    Kondisi Kedua:

    Jika seorang wanita tidak mempunyai kebiasaan waktu haidh yang jelas, tetapi darah yang keluar di sebagian harinya memiliki ciri-ciri yang berbeda, seperti mengandung ciri-ciri darah haidh, berupa warna darah yang hitam atau kental atau mengandung aroma darah haidh, sedangkan pada hari-hari yang selainnya tidak terdapat ciri-ciri darah haidh, seperti darah berwarna merah, tidak mengandung aroma, tidak kental, maka dalam keadaan ini darah yang mengandung ciri-ciri haidh dianggap sebagai haidh, dan ia wajib meninggalan shalat dan puasa. Sedangkan selainnya dianggap sebagai istihadhah. Ia hendaknya mandi pada akhir keluarnya darah yang terdapat ciri-ciri haidh, mendirikan shalat dan berpuasa serta terhitung dalam keadaan suci. Dan hendaknya dia berwudhu setiap akan mendirikan shalat, jika darah masih keluar terus-menerus.

    Kondisi Ketiga:

    Jika seorang wanita tidak mempunyai kebiasaan waktu haidh yang jelas dan tidak pula ada ciri-ciri yang membedakan antara darah haidh dengan yang lainnya, maka hendaknya ia istirahat (tidak shalat dan berpuasa) pada umumnya masa haidh selama enam hari atau tujuh hari setiap bulannya. Karena hal ini merupakan kebiasaan yang umum pada kaum wanita. Namun hendaknya dia tidak memilih jumlah hari sesukanya, seperti bulan ini ia istirahat selama lima hari, lalu pada bulan yang lain selama enam hari. Namun hendaknya dia memilih apa yang biasa terjadi pada kerabatnya, misalnya yang biasa dialami oleh ibunya, saudara perempuannya, bibinya dari ayah, atau bibinya dari ibu. Maka jika mayoritas mereka misalnya mengalami haidh selama lima hari, maka ia pun istirahat sebagaimana mereka. Demikianlah kita menyamakan keadaannya dengan keadaan mayoritas kebiasaan wanita-wanita kerabatnya yang ada di sekitarnya. Dan ia tetap dalam keadaan demikian pada masa ini hingga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kesembuhan kepadanya.

    Kesimpulan:
    1. Wanita yang masa haidhnya jelas, dikembalikan kepada kebiasaannya tersebut.
    2. Wanita yang hanya dapat membedakan darah saja, maka ia melihat dengan perbedaan itu.
    3. Dan yang tidak bisa dengan kedua-duanya, maka ia mengikuti kebiasaan mayoritas wanita kerabatnya yang berada di sekitarnya.

    Footnote:

    ________________________

    [1] Diantara contoh kasus ini adalah goncangan kejiwaan (psikologis) yang dialami seorang wanita, seperti ketika menghadapi ujian sekolah atau perselisihan suami-istri. Ini semua kadangkala menyebabkan memanjangnya masa haidh, keterlambatan atau maju.

    [2] Catatan: disertakan kata “wa lailah (semalam)” dalam teks ini berdasarkan pada hasil telaah Syaikh Dr. Abdullah bin Nashir As-Sulami yang terakhir. Dan yang dimaksudkan dengan perkataan “yaum wa lailah” (sehari semalam) adalah 24 jam atau mendekati sehari semalam, seperti 22 jam.

    [3] Tidak terjadi pada masa kebiasaannya dan terdapat bekas bercak, dimana jika dia mendapati darah ketika mengusapnya, maka hal ini dianggap haidh.

    Sumber:
    Kajian Pertama Kaidah dan Permasalahan Tentang Haidh

    Buku:
    “Wanita dan Thaharah Panduan Lengkap Seputar Haidh, Nifas, Istihadhah dan lain-lain”

    Oleh:
    Syaikhah Binti Muhammad al-Qasim

Meraih Lailatul Qadar dengan Ilmu dan Istiqomah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Muqoddimah

Ada tiga kelompok orang yang dido‘akan dengan kejelekan oleh Jibril dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka itu adalah:

1.Orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dia tidak diampuni (setelah keluar darinya-pen.).

2. Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, tetapi ia masuk ke dalam Neraka.

3. Orang yang disebutkan di hadapannya nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak bershalawat kepadanya.

Ada beberapa hadits yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah:

Pertama: Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Aamiin.’”

Read more…

Cara Wanita Mengusap Kepala Ketika Wudhu Di Tempat Umum

cara-wudhu-wanita

Bagaimana Cara mengusap Kepala bagi Wanita di Tempat Umum ?

Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum. Sahkah wudhu seorang wanita yang rambutnya panjang, (tetapi) dia cuma mengusap bagian depannya saja? Bagaimana seharusnyawudhu yang benar bagi wanita yang rambutnya panjang? Bagaimana jika wudhu di tempat umum? Apakah boleh hanya mengusap jambulnya?
Fachrul (fachr**@****.com)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Bismillah.

Pertama: Sesungguhnya, yang diusap ketika berwudhu adalah kepala, bukanrambut. Karena itu, sepanjang apa pun rambut seseorang, cara mengusapnya sama dengan orang yang berambut pendek. dan batas kepala adalah sampai tengkuk. Karena itu, mengusapnya hanya sampai tengkuk dan bukan sepanjang rambut.

Kedua: Berdasarkan riwayat-riwayat tentang tata cara mengusap kepala maka ada tiga perincian:

1. Mengusap seluruh kepala.
Ini yang umumnya dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dicontohkan oleh sahabat Utsman bin Affan dan Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma. Abdullah bin Zaid pernah menceritakan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beliau mulai dari depan kemudian ke belakang. Beliau mulai dari bagian depan tumbuhnya rambut, kemudian beliau tarik kedua tangannya ke tengkuknya, lalu beliau kembalikan kedua tangannya ke tempat semua (bagian depan kepala yang ditumbuhi rambut).” (HR. Bukhari dan Muslim); riwayat semisal ini banyak sekali.

2. Mengusap jambul kemudian dilanjutkan mengusap serban sampai ke tengkuk.
Berdasarkan riwayat dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, kemudian beliau mengusap jambul kepala beliau dan serbannya, lalu mengusap sepatu. (HR. Muslim)

3. Mengusap serban saja, tanpa ada bagian rambut yang terkena usapan.
Berdasarkan riwayat dari Amr bin Umayah radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap serban beliau dan sepatu beliau (ketika berwudhu). (HR. Bukhari). Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. (Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir). Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum tidak boleh melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.

Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap.
(Shifat Wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, hlm. 28)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Post Navigation

%d bloggers like this: